Indonesia Gandeng AS Bahas Regulasi Pesawat Nirawak

Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sedang membahas peluang dan tantangan operasional pesawat nirawak.
Rio Sandy Pradana | 15 Mei 2019 17:23 WIB
Ilustrasi - Pesawat tanpa awak. - Bisnis/dronewars.net

Bisnis.com, JAKARTA - Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan sedang membahas peluang dan tantangan operasional pesawat nirawak (unmanned aerial vehicle/UAV) dengan Amerika Serikat.


Dirjen Perhubungan Udara Polana B. Pramesti mengatakan, saat ini teknologi berkembang sangat cepat, salah satunya penggunaan UAV. Penerbangan tanpa awak menawarkan berbagai kemampuan dan kecanggihan, sehingga industri tersebut memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.


Pihaknya membuka pertemuan kelompok kerja Indonesia–Amerika Serikat untuk mendiskusikan kerja sama penerbangan sipil antara kedua negara. Adapun, kerja sama tersebut merupakan bagian dari kelanjutan program US–Indonesia Aviation Working Group.


“Ini merupakan tantangan bagi regulator, dan membutuhkan waktu khusus untuk mengatur manajemen lalu lintas udara. Tantangan umum terletak pada mengintegrasikan pesawat berawak dan tak berawak dengan aman dan efisien, terutama dalam penggunaaan wilayah udara yang sama,” kata Polana dalam siaran pers, Rabu (15/5/2019).


Dia berharap, pertemuan tersebut mampu memberikan sejumlah solusi dari tantangan yang dihadapi industri penerbangan saat ini, khususnya peraturan kedua negara mengenai UAV. Hal yang dibicarakan adalah perkembangan teknologi UAV dan berbagi pengalaman antar regulator dalam menangani operasinya.


Selain itu, dibahas juga mengenai risiko dan pengawasannya terhadap UAV. Terlebih, pengoperasian UAV diprediksi bisa memberikan sejumlah manfaat untuk berbagai sektor.


"Oleh karena itu, kami perlu mendukung pengoperasian UAV yang tidak hanya berkelanjutan, tetapi harus sesuai dengan aturan tanpa mengesampingkan keselamatan dan keamanan,” ujarnya.


Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar AS untuk Indonesia Joseph R. Donovan mengatakan, working group yang dilaksanakan bertujuan untuk memperkuat kerja sama antara kedua negara khususnya di bidang penerbangan.

Industri penerbangan punya peranan penting dalam pembangunan Indonesia, mengingat kondisi geografi yang memiliki ribuan pulau. "Kami melihat teknologi UAV bisa berkembang dan punya potensi untuk mendorong industri penerbangan di Indonesia,” kata Donovan.


Dia menambahkan, hal ini tak terlepas dari kemampuan dan kelebihan UAV yang bisa mengirimkan bantuan dalam waktu cepat, dapat digunakan dalam membantu perkembangan ekonomi digital dan e-commerce, serta meningkatkan realibilitas pembangunan ekonomi dan infrastruktur.


Pihaknya menilai UAV sangat efisien dan efektif untuk menjangkau daerah atau kawasan-kawasan terpencil yang memang sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Namun, perkembangan industri ini tak terlepas dari regulasi dan strategi yang diterapkan oleh pemangku kebijakan yang mendukung pengembangan teknologi ini.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, Kemenhub, Drone

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup