BI Diyakini Tahan Suku Bunga

Seiring dengan tekanan eksternal yang kembali menguat, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 15-16 Mei 2019.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  16:16 WIB
BI Diyakini Tahan Suku Bunga
Kantor Bank Indonesia - Ilustrasi/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Seiring dengan tekanan eksternal yang kembali menguat, Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 15-16 Mei 2019.

Konsensus dari 30 ekonom memperkirakan BI akan kembali menahan 7-Day Reverse Repo Rate.

Kepala Ekonom PT Bank Nasional Indonesia Tbk. Ryan Kiryanto mengatakan, BI mertimbangkan faktor eksternal dan internal.

Dari faktor eksternal, diyakini arah gerak fed fund rate (FFR) semakin longgar atau dovish dimana The Fed tidak lagi agresif menaikkan FFR

Bahkan, dia melihat ada potensi FFR akan diturunkan 25 bps dalam jangka pendek ke level 2,0 persen-2,25 persen karena inflasi AS yang rendah yakni 1,7 persen.

Selain itu, ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS di bawah 3 persen sesuai perkiraan IMF per April 2019.

Dari faktor internal, Ryan menilai BI dan pemerintah memiliki pandangan yang sama, yakni stability over growth atau memprioritaskan stabilitas sambil menjaga momentum pertumbuhan.

"Sehingga pilihan paling rasional dan strategis adalah RDG BI tetap menahan BI-7DRR Rate di level 6 persen. Juga deposit facility dan lending facility di level yang tetap," kata Ryan, Rabu (15/05/2019).

Dia menambahkan, level suku bunga 6 persen sebenarnya sudah direspons lebih awal oleh pasar. Level 6 persen ini sudah mempertimbangkan peluang FFR bertahan di level sekarang ini atau turun 25 bps hingga akhir 2019 ini.

Langkah BI pada 2018 yang secara agresif menaikkan BI7DRR Rate sebesar 175 bps dari 4,25 persen ke 6 persen merupakan langkah preemptive dan ahead the curve yang tepat dan taktis mengiringi kenaikan FFR 100 basis poin (bps) pada saat itu.

Jika RDG BI saat ini tidak menaikkan BI-7DRR Rate alias tetap di level 6 persen sebagaimana RDG April 2019 lalu, menurutnya adalah langkah tepat.

"Keputusan ini bisa membantu penguatan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal, trade war AS vs China, risiko geopolitik, perlambatan ekonomi global, masih melemahnya harga komoditas dan kebuntuan solusi Brexit," kata Ryan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Suku Bunga

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top