LAPORAN DARI SINGAPURA: Relasi China-Asean di Tengah Badai Perang Dagang

Sebagai kawasan yang secara geopolitik sangat dekat dua negara adidaya tersebut, Asean merupakan sebuah entitas yang sangat tergantung pada perkembangan perdagangan di kedua negara, khususnya China.
Edi Suwiknyo | 13 Mei 2019 05:02 WIB

Selama satu dasawarsa terakhir China telah bangkit dari tidur panjang. Masa kejayaan sebagai raksasa dagang kembali berulang, tirai bambu disibak dan jalur sutra yang lama terbengkalai dihidupkan kembali melalui proyek ambisius belt and road initiative.

Tak tanggung-tanggung, dana miliaran yuan digelontorkan untuk menopang ambisi ini. Namun, di tengah ambisi itu Amerika Serikat (AS) datang menghadang. Trade war pecah dan menciptakan ketidakpastian bukan hanya bagi masa depan China vs AS, tetapi semua negara termasuk kawasan Asean.

Sebagai kawasan yang secara geopolitik sangat dekat dua negara adidaya tersebut, Asean merupakan sebuah entitas yang sangat tergantung pada perkembangan perdagangan di kedua negara, khususnya China. Pasang surut ekonomi China akan sangat memengaruhi stabilitas ekonomi kawasan begitupula sebaliknya.

Namun dari sisi lain, agresivitas China di laut China Selatan juga memunculkan kekhawatiran terhadap masa depan relasi dua kawasan yang sebenarnya sudah terhubung sejak ribuan tahun silam.

Selain itu, pembangunan jalur sutra modern atau Belt and Road Initiative yang merupakan inisiasi pemimpin China Xi Jinping, juga memberikan banyak tantangan, terutama isu soal jebakan utang dibalik pembangunan mega infrastruktur yang paling ambisius abad ini.

Deputi CEO Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) Internasional James Sun menjelaskan, China sedang melakukan reformasi secara struktural dengan memfokuskan ke pertumbuhan yang lebih besar. Asean sebagai mitra utama China, sebenarnya bisa memanfaatkan proses reformasi struktural yang sedang terjadi di negeri panda itu.

Di bidang perdagangan misalnya, China–Asean sudah lama terjalin dan semakin meningkat terutama dengan keberadaan perjanjian perdagangan bebas di antara kedua wilayah. Di sisi lain, kebutuhan beberapa negara Asean yang sedang mencari cara untuk membiayai proyek infrastruktur juga membuka peluang kerja sama lebih besar.

“Potensi kerja sama sangat besar di bidang perdagangan, keuangan, dan pembangunan infrastruktur,” kata James di acara Maybank Invest Asia 2019 di Singapura, akhir pekan lalu.

Dalam catatan Bisnis, nilai perdagangan Asean–China setiap tahun terus meningkat. Pada 2018 nilai perdagangan kedua kawasan ini meningkat cukup besar yakni 14,1% atau telah mencapai US$587,87 miliar. Dari sisi investasi, jumlah investasi kedua kawasan juga meningkat cukup jauh mencapai US$205,71 miliar.

Kendati demikian, negosiasi perang dagang antara China-AS yang sampai sekarang belum memiliki titik temu juga menimbulkan banyak kekhawatiran. Bahkan yang paling buruk, akan sangat berpengaruh terhadap stabilitas perekonomian di kawasan yang terdiri dari 10 negara tersebut.

President & CEO Maybank Group Datuk Abdul Farid Alias sempat menyinggung ancaman Presiden AS Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor Cina dari 10 persen menjadi 25 persen di tengah upaya negosiasi dagang antara kedua negara tersebut, telah merusak pasar.

Dia menyebut ketegangan antara dua raksasa perdagangan dunia ini telah menimbulkan keraguan serius tentang masa depan konektivitas ekonomi global. Salah satu indikasinya adalah anjloknya volume perdagangan dunia pada tingkat tercepat sejak berlangsungnya krisis keuangan beberapa waktu lalu.

Dengan prospek global yang kurang menguntungkan, Abdul Farid tak mengelak jika kondisi ini kemudian mendorong aksi-aksi regionalisasi di sejumlah kawasan. Apalagi, dalam kasus Asia hal itu sudah bisa dilihat dari beberapa aspek.

Pertama, peningkatan pangsa pasar perdagangan Intra-Asia menjadi 61 persen pada 2018 dari 57,3 persen pada 2016. Kedua, investasi intra-regional menunjukan kenaikan dari 48 persen pada 2015 menjadi 50,2 persen pada 2017.

“Kami percaya periode ketidakpastian global saat ini adalah peluang besar bagi ekonomi Asean untuk muncul sebagai pemimpin dalam keberlanjutan," ucapnya.

Sementara itu, President of Supply Chain Management Outsource (SCMO) Nicolas de Loisy mengatakan dalam perang dagang yang sedang terjadi saat ini sebenarnya tidak ada yang diuntungkan. Hampir semua negara yang bertikai baik itu China maupun AS sama-sama menderita.

Namun demikian, Nicolas menyebut di tengah ketidakpastian yang menyeruak, Asia Tenggara menjadi pihak yang diuntungkan dan bisa jadi mendapatkan peluang dari perang antara dua negara adidaya tersebut.

"Semua menderita baik China maupun AS, tetapi barangkali akan ada yang menerima manfaat dan Asean mungkin yang berpotensi menerimanya," jelasnya.

Adapun Presiden Direktur Maybank Kim Eng Sekuritas Wilianto Le mengatakan, trade war antara China dengan AS tak hanya dilihat dari aspek negatifnya, tetapi juga memiliki dampak positifnya. Peluang itu muncul misalnya, ketika China menyiasati situasi tersebut dengan merelokasi industrinya ke luar China.

“Mereka makin lama makin mahal, jadi di situ itu kami melihat banyak peluang, ketika China investasi keluar, itu sebenarnya sangat bagus bagi negara-negara lain,” ungkap Wilianto.

Namun demikian, Wilianto menyebut bahwa untuk menarik limpahan investasi dari relokasi industri tersebut tidak mudah. Banyak negara lain di Asia Tenggara misalnya Vietnam, Thailand, atau Filipina yang juga menjadi saingan utama dalam menarik investasi asing.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah mau tak mau harus melakukan banyak terobosan. Tak hanya pada satu atau dua aspek, tetapi terobosan yang sifatnya menyeluruh baik dari sisi insentif, regulasi, maupun pembangunan sumber daya manusia (SDM).

“Dukungan pemerintah sangat penting, terutama dalam membuat kebijakan yang ramah terhadap investasi,” ungkapnya.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asean, perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup