Pasok Kamar Hotel di Jakarta 2019 Bertumbuh Tipis

Dari 2019 hingga 2022, pasok unit kamar hotel diperkirakan hanya akan tumbuh sekitar 1,9 persen.
Mutiara Nabila | 13 Mei 2019 16:50 WIB
Ilustrasi lobi hotel - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Jumlah pengunjung asing, baik wisatawan atau pelaku kunjungan bisnis di Jakarta mengalami kenaikan di Jakarta dalam catatan sepanjang 2018, tetapi turun pada awal 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu membuat pasok hotel di Jakarta tumbuh tipis.

Berdasarkan laporan Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, terdapat total 326 hotel yang menyediakan sekitar 46.899 unit kamar sepanjang 2018. JLL memprediksikan, pada 2019 akan ada tambahan unit kamar hingga 2,9 persen secara year-on-year (yoy) atau sekitar 2.139 unit kamar.

Adapun, dari 2019 hingga 2022, pasok unit kamar hotel diperkirakan hanya akan tumbuh sekitar 1,9 persen.

Pada 2018, JLL mencatatkan kunjungan wisatawan asing lewat jalur udara naik 2,3 persen yoy menjadi 2,8 juta. Pertumbuhan tersebut tergolong stabil, setelah pemerintah melonggarkan skema visa pada 2015, bersamaan dengan adanya Asian Games di Jakarta dan juga di Palembang.

Namun, pada awal 2019, secara year-to-date (ytd), pengunjung asing mengalami penurunan sekitar 0,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya menjadi 208.450 orang.

JLL menyebut, pengunjung dari China masih menjadi sumber utama bagi pasar untuk pengunjung asing di Jakarta sepanjang 2018, sekitar 20,4 persen dari seluruh pengunjung asing. Jumlah itu diikuti dari Malaysia sebanyak 17,9 persen, Jepang 11,8 persen, dan Singapura 11,2 persen.

Tingkat kedatangan turis asing ke Jakarta kebanyakan untuk kunjungan bisnis dan ada pula yang menjadikan Jakarta sebagai tempat transit bagi pelancong sebelum berkunjung ke tempat lain di Indonesia.

“Sekitar 80 persen dari seluruh pengunjung menginap di hotel berbintang. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan untuk akomodasi berkualitas di Jakarta masih tinggi,” ungkap Tay Sze Min, Associate Research JLL Asia, dikutip dalam keterangan tertulis, Senin (13/5/2019).

Ke depan, diperkirakan tingginya jumlah pasok hotel di Jakarta akan membebani kinerja pasar hotel untuk jangka pendek, karena pasar masih akan menyerap pasok baru dari 2017 dan 2018.

“Harapannya ke depan, adanya MRT bisa memperbaiki pasar hotel di kawasan koridor Sudirman,” sambungnya.

Selanjutnya, untuk jangka menengah dan panjang, kinerja pasar hotel diperkirakan akan tetap positif karena investor asing dan lokal akan terus bertumbuh dan berkembang, mengingat periode politik Indonesia segera usai dan perekonomian akan kembali stabil.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perhotelan

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup