AS-China Memanas lagi, Perdagangan RI Terancam

Kinerja perdagangan nasional bakal semakin berada dalam tekanan, apalagi setelah Negara Paman Sam memberlakukan tarif baru atas impor barang China sebesar 25 persen.
Tim Bisnis Indonesia | 11 Mei 2019 12:19 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja perdagangan nasional bakal semakin berada dalam tekanan, apalagi setelah Negara Paman Sam memberlakukan tarif baru atas impor barang China sebesar 25 persen.

Perang dagang Amerika Serikat-China diangkat menjadi tipok headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Sabtu (11/5/2019)

Kendati tidak terkait langsung, perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kian memanas itu tetap bisa berdampak serius bagi perdagangan nasional, jika tidak segera disikapi.

Di sisi lain, hubungan antara kedua negara yang semakin meruncing tersebut juga bisa berdampak positif bagi negara lain, termasuk RI, jika mampu menangkap peluang.

Pada Jumat (10/5) pukul 12.01 malam waktu Washington atau pukul 11.01 pagi WIB, Pemerintah AS memberlakukan tarif baru sebesar 25% dari semula 10% terhadap barang-barang asal Cina senilai US$200 miliar.

Tarif baru itu berlaku untuk lebih dari 5.700 kategori produk China, mulai dari sayur-sayuran olahan hingga lampu Natal.

Keputusan Presiden AS Donald Trump itu diambil di tengah berlangsungnya pembicaraan lanjutan antara kedua negara di Washington, AS pada 9 & 10 Mei 2019.

Menko Pereko­nomian Darmin Nasution menilai semakin memanasnya hubungan AS-China juga akan berisiko pada perekonomian kedua negara itu. Pada ujungnya, kondisi tersebut dapat menyeret negara lain yang menjadi mitra dagang kedua negara itu.

“Ya, tentu saja bisa berpengaruh ke kita, kalau ditanya ada pengaruhnya atau tidak. Akan tetapi, kita belum bisa hitung. Kita juga belum tahu lagi sikap Trump selanjutnya, yang dikenal suka berganti-ganti,” ujar Darmin, Jumat (10/5).

Pelemahan ekonomi China, sambungnya, juga akan berimbas kepada penurunan ekspor RI, seiring dengan menurunnya permintaan dari negara itu.

“Biasanya langkah AS itu juga akan dibalas oleh China. Jadi, walaupun kita tidak ikutan perang dagang, tapi pasti bakal terkena imbasnya. Neraca dagang kita pasti menurun,” ujarnya.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menilai meskipun tidak terlibat langsung dalam perang dagang antarkedua negara itu, posisi Indonesia memang tidak menguntungkan.

“Porsi ekspor nonmigas Indonesia ke AS dan China sebesar 25% sehingga efek trade war cukup signifikan bakal memengaruhi permintaan pasar ekspor kita.”

Menurutnya, produk-produk, seperti elektronik, bahan baku otomotif hingga komoditas perkebunan, paling terdampak dari turunnya permintaan ekspor.

Di sisi lain, AS dan China akan mengalihkan kelebihan produksi ke pasar lain. “Pada 2018 misalnya, impor besi baja kuartal I naik signifikan sebesar 30,3% atau senilai US$1,6 miliar. Strategi dumping baja China juga perlu dicermati seiring dengan banjirnya pengalihan impor ke Indonesia.”

Hal senada juga diungkapkan oleh Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta W. Kamdani. “Tentunya ini secara signifikan mendorong perlambatan pertumbuhan ekspor Indonesia, penurunan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar, dan pendalaman defisit neraca perdagangan Indonesia.”

Seberapa besar dampaknya ke Indonesia juga bergantung dari kondisi perekonomian China, apakah terjadi perlambatan ekonomi dan penurunan aktivitas industri.

Menurut Shinta, sebagian besar barang yang dikenakan ekstra tarif oleh AS kepada China tidak diproduksi di Indonesia, sehingga peluang pasar yang tercipta karena perang dagang ini tak bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke AS. “Inilah mengapa kinerja ekspor Indonesia pada kuartal III dan kuartal IV tahun lalu justru turun, padahal semestinya naik.”

United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dalam laporannya menyatakan bahwa perang dagang ini akan menguntungkan Uni Eropa, Jepang, dan Australia. Pasalnya, produk yang dikenakan kenaikan tarif oleh AS untuk barang dari China adalah barang industri dan produk manufaktur, seperti panel surya, iPhone, dan lain sebagainya. Tentunya ini berbeda dengan produk ekspor Indonesia ke AS yang sebagian besar berupa aluminium, kakao, dan kopi.

Dia menambahkan kebijakan AS ini justru berdampak pada impor karena mata uang Indonesia cenderung melemah terhadap mata uang dolar AS.

Namun, kondisi ini bisa diminimalkan dengan menggunakan mata uang lain di luar dolar AS dalam transaksi perdagangan. “Jadi, kebijakan local currency dengan China harus dipercepat, supaya transaksi berjalan Indonesia tak terlalu tertekan.”

Sekjen Gabungan Importir Seluruh Indonesia (Ginsi) Erwin Taufan mendesak pemerintah segera mengambil peluang. “Indonesia harus bisa lobi ke Amerika, produk-produk yang biasanya di ekspor oleh China dapat diisi oleh Indonesia.”

SUBSTITUSI PRODUK

Sementara itu, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan berdasarkan dari pengalaman sebelumnya, tindakan AS yang kembali menaikan tarif impor terhadap produk China akan berdampak pada perdagangan nasional mengingat kedua negara itu merupakan mitra utama RI.

Namun demikian, masih tetap ada potensi bagi Indonesia untuk mengisi atau mensubstitusi produk asal China yang terhambat tarif tinggi di AS.

“Untuk perkiraan dan analisis detail, saya belum bisa kasih respons karena harus cek dulu list produk yang dikenakan kenaikan tarif itu,” ujarnya.

Pemerintah, lanjutnya, juga akan mengintensifkan instrumen pengamanan perdagangan, seperti antidumping dan safeguard untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan impor ataupun unfair trade.

Pengumuman kenaikan tarif oleh AS itu, kendati sempat membuat bingung pasar, tidak berdampak pada pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir perdagangan pekan ini.

Kemarin, IHSG mendarat di zona hijau di level 6.209 atau menguat 0,17%, mengakhiri pelemahan selama 2 hari berturut-turut sebelumnya. Membaiknya kinerja indeks pada akhir perdagangan Jumat itu beriringan dengan rebound beberapa indeks di kawasan Asia.

Thendra Crisnanda, Head of Research Institusi MNC Sekuritas, menilai pasar keuangan telah mulai terbiasa dengan keputusan “yang tak terduga” dari Presiden AS Donald Trump.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menilai, penekan utama IHSG adalah sentimen eksternal. “M­­­em­baiknya current account deficit kuartal I/2019 juga turut memberikan katalis positif bagi IHSG.” (Puput Ady Sukarno/Yanita Petriella/Finna U. Ulfah/Hadijah Alaydrus)

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Neraca Perdagangan, perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup