Akhirnya, Trump Realisasikan Tarif 25 Persen pada Impor China

Sekitar satu jam yang lalu, pemerintah Amerika Serikat (AS) mulai memberlakukan kenaikan tarif terhadap impor China. Ini menjadi dorongan paling dramatis oleh Presiden Donald Trump untuk mendapatkan konsesi perdagangan yang diinginkannya.
Renat Sofie Andriani | 10 Mei 2019 12:03 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. - Reuters/Jonathan Ernst

Bisnis.com, JAKARTA – Sekitar satu jam yang lalu, pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi mulai memberlakukan kenaikan tarif terhadap impor China. Ini menjadi dorongan paling dramatis oleh Presiden Donald Trump untuk mendapatkan konsesi perdagangan yang diinginkannya.

Pada Jumat (10/5/2019) pukul 12.01 malam waktu Washington (pukul 11.01 pagi WIB), pemerintah AS akhirnya merealisasikan kenaikan tarif sebesar 25 persen dari 10 persen terhadap barang-barang asal China senilai US$200 miliar.

Tarif baru itu dikenakan pada lebih dari 5.700 kategori produk yang berbeda asal China, mulai dari sayur-sayuran olahan hingga lampu Natal dan kursi tinggi untuk bayi.

Meski demikian, menurut pejabat AS, seperti diberitakan Bloomberg, tarif itu tidak akan berlaku untuk barang-barang yang sudah berada di kapal menuju pantai Amerika.

Langkah tersebut dilakukan setelah perundingan antara utusan perdagangan Presiden China Xi Jinping dan sejumlah pejabat pemerintahan AS pada Kamis (9/5) di Washington membuat sedikit kemajuan.

Menurut sumber terkait, suasana perundingan yang berlangsung saat itu tampak suram.

Sebelum perundingan berlangsung hari itu, Trump telah menyatakan AS akan melakukan persiapan untuk lebih lanjut mengenakan tarif 25 persen pada barang-barang asal China senilai US$325 miliar.

Rencana ini serta merta meningkatkan prospek pengenaan tarif baru terhadap seluruh ekspor barang-barang China ke AS yang bernilai sekitar US$540 miliar pada 2018.

Meski akan membutuhkan waktu selama berpekan-pekan untuk diterapkan, langkah itu akan memiliki dampak yang signifikan tak hanya bagi ekonomi China, tetapi juga ekonomi AS dan global pada umumnya.

Dalam sebuah laporan pekan ini, Moody's Analytics memaparkan bahwa perang perdagangan habis-habisan antara dua negara berekonomi terbesar di dunia itu berisiko membuat ekonomi AS jatuh ke dalam resesi pada akhir tahun 2020.

Pemerintah China sendiri telah menegaskan tidak gentar dengan kenaikan tarif AS dan bersumpah untuk melakukan pembalasan jika kenaikan tarif ditindaklanjuti.

“Kenaikan tarif AS pada impor China bakal mempercepat dan memperluas siklus pelonggaran kebijakan di Asia,” ujar Chang Shu, Kepala Ekonom Asia di Bloomberg Economics, berpendapat sebelum tarif itu akhirnya diberlakukan pada Jumat.

“Bank-bank sentral yang mempertimbangkan peralihan ke bias pelonggaran kemungkinan akan menjadi jauh lebih sedikit ragu-ragu karena tarif yang lebih tinggi,” lanjutnya.

Juru bicara Gedung Putih menyatakan Wakil Perdana Menteri China Liu He, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer, dan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin telah sepakat untuk melanjutkan perundingan mereka pada Jumat (10/5/2019) pagi waktu Washington.

Meski perundingan antara kedua belah pihak akan dilanjutkan pada Jumat, sejumlah pengamat mengutarakan pesimisme mereka atas adanya terobosan yang signifikan.

Seorang sumber terkait dengan perundingan itu mengatakan bahwa para pejabat AS tidak yakin apakah Liu memiliki wewenang untuk membuat komitmen yang berarti.

Sebelumnya, kepada media pemerintah China setelah tiba di Washington, Wakil Perdana Menteri Liu He mengatakan bahwa akan sangat tidak menguntungkan kedua belah pihak jika tarif dinaikkan.

“Kami datang di bawah tekanan. Ini menunjukkan ketulusan terbesar China serta keinginan yang tulus, percaya diri, dan rasional untuk menyelesaikan ketidaksepakatan atau perbedaan tertentu yang dihadapi China dan Amerika Serikat,” ungkap Liu.

Gejolak pada pasar keuangan AS sempat mereda setelah Trump mengutarakan masih adanya kemungkinan untuk mencapai kesepakatan pekan ini, bahkan ketika dia mengulangi rencana untuk menaikkan tarif untuk China.

Trump juga mengatakan mungkin akan berkomunikasi dengan Presiden Xi Jinping melalui sambungan telepon. Namun, menurut pejabat senior pemerintahan Trump, tidak ada pembicaraan langsung antara kedua pemimpin itu pada Kamis malam ataupun rencana pembicaraan dalam waktu dekat.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup