Pembangunan TOD Diarahkan ke Milenial

Pemerintah mencoba menjembatani dengan membangun hunian nempel stasiun, sambil menunggu para milenial mampu membeli rumah tapak.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  12:25 WIB
Pembangunan TOD Diarahkan ke Milenial
Pengunjung mencoba virtual reality disamping maket hunian terintegrasi transportasi Stasiun Rawa Buntu yang dibangun dengan konsep Transit oriented Development (TOD) di Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (10/12/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA--Sekretaris Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dadang Rukmana minta kepada milenial Jakarta untuk membeli rumah susun nempel stasiun yang kini dikembang memanfaatkan lahan PT KAI, atau transit oriented development (TOD).

"Kalau mau mencari rumah tapak dapatnya pasti di pinggiran, maka kami bangunkan yang nempel stasiun kalangan milenial bisa memanfaatkan itu," kata Dadang saat menjadi pembicara dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Pena di Jakarta, Rabu (9/5/2019) malam.

Dadang mengakui hunian bertingkat yang terdapat di stasiun Tanjung Barat dan Pondok Cina yang dibangun melalui sinergi BUMN PT KAI, Perumnas, dan BUMN Karya itu memang ditujukan bagi warga milenial.

"Kami akan seleksi pembelinya untuk memastikan bukan mereka yang sudah punya rumah. Sehingga dapat dipastikan pembelinya benar-benar mereka yang belum memiliki rumah," ujar Dadang.

Kalau disebut harganya yang mencapai Rp300 juta sampai Rp500 juta, Dadang mengatakan pemerintah telah menyiapkan fasilitas subsidi bunga dan uang muka, bahkan jangka waktu angsurannya dapat diperpanjang sampai dengan 30 tahun.

Dadang mengatakan pemerintah telah mempelajari perilaku generasi milenial. Mereka sebenarnya belum membutuhkan hunian yang luas karena hampir sebagian besar waktunya dihabiskan di luar rumah, rumah bagi mereka hanyalah tempat transit.

"Hobi mereka itu traveling, menjalankan bisnis dengan teman-temannya sehingga jarang di rumah. Namun dengan berjalannya waktu, pada saatnya mereka akan menjadikan rumah sebagai destinasi, serta mulai berpikir untuk tinggal di pinggir Jakarta," jelas Dadang.

Dadang mengaku sudah terjadi perubahan paradigma di kalangan muda untuk tidak buru-buru mencari rumah, mereka lebih suka mencari hunian yang praktis meskipun sekadar menyewa. Untuk itu pemerintah mencoba menjembatani dengan hunian nempel stasiun, sambil menunggu mereka mampu membeli rumah tapak.

Sedangkan Wakil Ketua Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) , Hari Ganie mengatakan belum banyak anggotanya yang memahami konsep transit oriented develoment (TOD) yang dikembangkan. Pemerintah diharapkan segera menyiapkan regulasinya.

Kalau membangun hunian terintegrasi sudah banyak anggota REI yang membangun. Namun untuk konsep TOD ini memang baru apakah diharuskan terintegrasi dengan stasiun ataukah bagian dari urban development, ungkap Hari.

Hari mengaku potensi pasar milenial ini sudah dimonitor anggota REI sejak lama yang jelas sebagian besar memang beraktivitas di Jakarta dengan penghasilan direntang Rp3 juta sampai Rp15 juta, populasinya diperkirakan 30 persen dari jumlah penduduk Indonesia.

Hari mengatakan pengembang skala kota sebagian besar telah mengadopsi konsep integrasi dengan transportasi. Namun untuk konsep yang nempel stasiun masih baru bagi mereka untuk itu pemerintah diharapkan dapat menyampaikan regulasinya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
transit oriented development, rumah milenial

Sumber : Antara

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top