Ekspor China Diprediksi Masih Tertekan

Capital Economics, dalam catatan penelitian mengatakan bahwa prospek ekspor China masih menantang. Terlebih, negara tersebut mencatatkan surplus perdagangan yang jauh dari ekspektasi pada April.
Nirmala Aninda | 08 Mei 2019 14:59 WIB
Yuan. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Capital Economics, dalam catatan penelitian mengatakan bahwa prospek ekspor China masih menantang. Terlebih, negara tersebut mencatatkan surplus perdagangan yang jauh dari ekspektasi pada April.

Data bea cukai yang dirilis pada Rabu (8/5/2019) menunjukkan, surplus perdagangan China pada April mencapai US$13,84 miliar.

Angka tersebut jauh lebih rendah dari perkiraan US$35 miliar berdasarkan hasil survei Reuters terhadap sejumlah ekonom. Tak hanya itu, capaian tersebut juga berada di bawah realisasi pada Maret lalu yang mencapai US$32,65 miliar.

Tekanan akan bertambah dari ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump. Jika ancaman itu terbukti, maka China akan mengalami kerugian lebih besar dari ekspor yang dapat melemah 2 persen hingga 3 persen.

"Bahkan jika kedua negara mencapai kesepakatan pada menit terakhir pekan ini untuk menghindari tarif lebih lanjut, prospek suram untuk pertumbuhan global mungkin dapat diartikan bahwa pertumbuhan ekspor akan tetap lemah," tulis catatan tersebut seperti dikutip melalui Reuters, Rabu (8/5/2019).

Sementara itu, para negosiator China dan AS akan bertemu di Washington dalam dua hari ke depan. Pertemuan kali ini sedikit lebih intens karena Beijing berusaha menghindari kenaikan tarif yang diperingatkan Presiden Trump mulai berlaku pada Jumat (10/5/2019), mendatang jika kesepakatan tidak kunjung tercapai.

Beberapa analis percaya tanda-tanda perbaikan ekonomi China dan Amerika baru-baru ini mungkin telah mempersulit posisi negosiasi mereka dalam perdagangan setelah kemajuan selama berbulan-bulan ketika prospek bisnis tampak jauh lebih goyah.

Namun, menyusul data ekonomi Maret yang sangat kuat dari Beijing, berkat efek stimulus pemerintah, hal yang sama tidak terjadi pada bulan berikutnya. Survei pabrik untuk April mengindikasikan laju pertumbuhan permintaan jauh lebih lambat, baik untuk pesanan dari dalam maupun luat negeri.

Kondisi ini menambah perdebatan tentang seberapa banyak lagi stimulus yang dibutuhkan China untuk mengejar pemulihan yang berkelanjutan, tanpa membebani risiko akumulasi utang.

Ketegangan pada perdagangan China kembali disulut oleh sikap proteksionisme Trump yang pada akhir pekan lalu memperingatkan akan ada kenaikan tarif impor bahkan tambahan terhadap produk impor baru.

Menurut pejabat tinggi perdagangan AS, langkah ini diambil oleh Trump karena China ingkar terhadap beberapa komitmen dagang yang sudah dinegosiasikan.

Kemunduran dalam proses negosiasi antara dua negara penguasa ekonomi di dunia telah menyentak pasar keuangan global.

Dow Jones Industrial Average, yang ditutup pada Senin (6/5/2019) menurun tipis, dan jatuh 1,8 persen pada Selasa (7/5/2019). Adapun di pasar Asia yang bergantung pada kegiatan perdagangan turut melemah pada Rabu (8/5/2019).

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, ekonomi china, perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup