Soal Harga Tiket Pesawat, Wapres JK : Tahun 1970 ke Makassar Rp1,5 Juta, Sekarang Masih Sekitar Rp1,5 Juta

Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai masyarakat dapat memilih kendaraan alternatif jika merasa tarif tiket pesawat terlalu mahal.
Anggara Pernando | 07 Mei 2019 17:37 WIB
Komponen biaya yang membuat tiket pesawat dari dan ke luar negeri lebih murah dari tiket domestik. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai masyarakat dapat memilih moda transportasi alternatif jika merasa tarif tiket pesawat terlalu mahal. 

"Selama ini memang tiket pesawat sangat murah dibanding seharusnya. Dalam waktu 20 tahun terakhir kurang lebih 10 perusahaan penerbangan tumbang. Semua tidak kuat [akibat perang tarif harga murah]," kata Jusuf Kalla (JK) di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa (7/5/2019). 

Menurutnya, sebagian besar pembiayaan dalam bisnis penerbangan menggunakan komponen mata  uang dolar. Tercatat sekitar 70% biaya menggunakan dolar. Sedangkan pendapatan berasal dalam mata uang rupiah.

"Tahun 70-an saya ke Makassar harga tiket Rp1,5 juta waktu [satu] dolar [Amerika Serikat] Rp2.500. Sekarang dolar sekitar enam kali lipat, harga tiket masih sekitar Rp1,5 juta juga," katanya.

Akibat persaingan yang ketat ini, kata JK, hanya dua maskapai sejauh ini yang berhasil bertahan yakni grup Garuda Indonesia dan Grup Lion. 

"Jadi justru sebenarnya tarif terlalu murah sehingga mereka susah," katanya.

Menurut Wapres industri penerbangan pasti sangat ingin harga tiket tidak naik. Pasalnya kenaikan harga akan menekan kemampuan penumpang membeli tiket pesawat dan beralih ke angkutan alternatif baik mobil pribadi, kereta api hingga kapal laut.

"Kalau naik lagi penumpang turun, tapi kalau [jumlah penumpang] terlalu rendah, bisa mati juga," katanya

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pesawat, jusuf kalla, tiket pesawat

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup