Adaro Masih Fokus Selesaikan Pembangunan Dua PLTU

PT Adaro Energy Tbk mengaku masih berfokus menyelesaikan dua proyek pembangkit tenaga uap sebelum benar-benar berinvestasi pada pembangkit energi bersih.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  06:31 WIB
Adaro Masih Fokus Selesaikan Pembangunan Dua PLTU
Direktur Teknik PT Tanjung Power Indonesia Kim Sangjong (dari kiri), Komisaris Mustiko Bawono dan Direktur PT Adaro Power Adrian Lembong mendiskusikan perkembangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Tanjung Kalimantan Selatan, Rabu (13/3/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—PT Adaro Energy Tbk mengaku masih berfokus menyelesaikan dua proyek pembangkit tenaga uap sebelum benar-benar berinvestasi pada pembangkit energi bersih.

Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Garibaldi Thohir mengatakan perseroan masih berfokus untuk menyelesaikan dua proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang akan segera beroperasi. Dua pembangkit itu, yakni PLTU Batang yang berkapasitas 2x1.000 MW di Jawa Tengah yang ditarget beroperasi komersial pada 2020 dan PLTU Tanjung Power yang berkapasitas 2x100 MW di Kalimantan Selatan yang ditarget beroperasi komersial pada tahun ini.

Dia mengakui Adaro saat ini memang berupaya menjajaki beberapa investasi pembangkit energi baru terbarukan (EBT), seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berkapasitas 100 Kilowatt per hour (kWh) di Kelanis, Kalimantan Tengah. Hanya saja, PLTS tersebut masih digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan.

Menurutnya, apabila pembangkit EBT sudah diyakini mampu dikembangkan perseroan maka baru kemungkinan akan dilakukan secara masif. Namun, Garibaldi mengaku masih berfokus pada dua proyek PLTU tersebut.

“Kita start kecil-kecilan seperti solar panel di Kelanis, tetatpi kita belum melangkah lebih jauh,” katanya, Selasa (30/4/2019).

Wakil Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk Christian A. Rachmat mengatakan pihaknya masih ingin memastikan proyek-proyek yang saat ini dikonstruksi mampu berjalan dengan baik. Sementara, dalam mengembangkan pembangkit EBT, Adaro masih memastikan lokasi mana yang sesuai sebab setiap daerah memiliki potensi berbeda-beda.

Dia mencontohkan, Kalimantan Utara sebagai daerah yang cocok dikembangkan untuk pembangkit tenaga hidro. Sementara, NTT, Sumba, dan Papua cocok untuk dikembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Adaro juga menarget pengembangan EBT ini pada daerah yang belum terelektrifikasi maupun masih menggunakan solar sebagai bahan bakar pembangkir. Sementara, jika mengembangkan pembangkit EBT di Pulau Jawa dinilai tidak akan menguntungkan dari segi binis.

“Jadi kita akan banyak bekerja sama dengan melakukan studi bersama beberapa ahli untuk melihat bagaimana baiknya,” katanya.

Menurutnya, potensi daerah harus benar-benar dipahami agar pembangkit tersebut tidak merugikan perusahaan. Setidaknya perusahaan masih memprhitungkan kepastian pengembangan pembangkit energi bersih dalam waktu satu atau dua bulan lagi.

“Intinya group Adaro benar-benar harus mempersiapkan untuk renewable, kita perlu tahu apakah aplikasi teknologi bisa dilakukan jangan sampai menggunakan PLTS cuma 5 jam karena matahari gak cukup kuat back up dengan genset, gak efisien banget itu,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pltu, adaro

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top