PERSPEKTIF Bob Azzam: Tantangan Besar di Era Industri 4.0

Kemampuan Indonesia menaklukkan gelombang IR 4.0 adalah dengan memberikan perhatian serius dalam menyiapkan angkatan kerja memasuki pasar kerja yang jumlahnya mencapai 2,7 juta orang per tahun.
Bob Azzam, Wakil Ketua Apindo | 29 April 2019 14:11 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Menghadapi era 4.0, saya teringat saat mengikuti konvensi Revolusi Industri 4.0 di Pulau Jeju, Korea Selatan. Ketika itu kami diajak meninjau satu perusahaan Smart Farming untuk melihat implementasi konsep Revolusi Industri (Industrial Revolution/IR) 4.0 di sektor pertanian.

Ternyata, implementasi IR 4.0 membuat produktivitas di smart farming tersebut meningkat seratus kali lipat dibandingkan dengan pola pertanian konvensional. Produktivitas ini diperoleh setelah perusahaan itu “berkorban” mengeluarkan modal empat kali lebih besar dari praksis pertanian konvensional selama ini.

Fenomena lainnya yang menarik perhatian adalah beberapa perusahaan China sudah berinvestasi di Amerika Serikat, yang merupakan pasar terbesar mereka. Investasi China di AS juga menerapkan strategi otomatisasi yang cukup tinggi.

Sebagai contoh, satu pabrik tekstil menggunakan 300 robot sehingga mampu memproduksi t-shirt seharga 80 sen dolar AS (Rp 10.000) per potong. Bangladesh yang terkenal sebagai negara garmen pun belum bisa memproduksi dengan harga semurah itu.

Efisiensi produksi berkat implementasi teknologi tersebut merupakan bagian dari strategi China dalam program khusus “Made in China 2025” yang diumumkan resmi pada Mei 2015. Program ini merupakan tekad China untuk menghilangkan ketergantungan terhadap teknologi asing dan mengangkat industri berteknologi tinggi (hi-tech) mereka hingga menjadi pemimpin pasar dalam industri teknologi global.

Untuk itu, Pemerintah China terus mendorong investasi sektor teknologi sekaligus menaikkan alokasi anggaran untuk kepentingan riset dan pengembangan. Strategi ini turut mendorong perusahaan-perusahaan China melakukan aksi korporasi mengambil alih saham perusahaan-perusahaan berteknologi tinggi seperti yang dilakukan terhadap produsen robotika Kuka pada 2016.

Hal ini menunjukkan semakin intensnya penggunaan teknologi dan masuknya IR 4.0 di berbagai sektor. Apalagi, IR 4.0 mampu menghasilkan barang dan jasa secara melimpah dengan harga jauh lebih murah.

Namun di sisi lain, IR 4.0 akan menyerap modal yang ada, terutama modal dari negara-negara berkembang sehingga akan memunculkan tantangan likuiditas di negara tersebut.

Secara sederhana bisa dikatakan, beberapa lapangan kerja akan berkurang tetapi barang-barang produksi akan menjadi berlimpah dan lebih murah dari sisi harga.

Hal ini tentu saja bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi para pekerja di Indonesia dengan tingkat upah relatif tinggi dan tingkat efisiensi di bawah 60% dari kapasitas seharusnya. Apalagi dalam kondisi surplus tenaga kerja tetapi defisit pekerja yang memenuhi kualifikasi dan keahlian sesuai kebutuhan pasar kerja.

Saat ini seperti kita ketahui negara-negara seperti Korea Selatan, Singapura, Hong Kong, China, Thailand, dan Jepang sedang menghadapi krisis demografi. Populasi penduduk mereka menua sehingga tingkat ketergantungan penduduk berusia lanjut terhadap penduduk berusia produktif semakin meningkat.

Mereka pun sangat membutuhkan otomatisasi atau IR 4.0. Bahkan, Jepang sudah masuk IR 5.0 atau smart society.

Berbeda dengan negara-negara tersebut, Indonesia sebetulnya dalam situasi yang tidak terlalu mendesak. Namun, kita harus segera menyiapkan prakondisi IR 4.0.

Dalam situasi seperti sekarang, hal terpenting yang harus kita lakukan adalah meningkatkan efisiensi dan produktivitas sebelum menghadapi permintaan pasar sesuai kebutuhan konsumen (costumized needs).

Isu peningkatan efisiensi dan produktivitas ini terjadi hampir semua sektor industri di Indonesia, seperti pertanian dengan produksi gula yang kalah bersaing dengan impor.

Kita harus fokus pada tiga bidang. Pertama, bagaimana kita meningkatkan kualitas industri kita karena tingkat penolakan produk (reject ratio) masih lebih dari 50% sehingga harus diturunkan sehingga perusahaan tidak efisien meskipun tingkat upah relatif murah. Kedua, terkait dengan logistik, biaya logistik sebesar 24% masih jadi momok karena negara lain saat ini sudah lebih rendah 12%.

Ketiga, masalah perawatan mesin industri. Bagaimana kita meningkatkan produktivitas peralatan melalui menjaga kualitas dan keandalan mesin-mesin produksi dengan memastikan kita mempunyai orang-orang yang mumpuni di bidangnya.

PETA JALAN

Apa yang dilakukan pemerintah saat ini sudah tepat, yaitu meningkatkan infrastruktur agar biaya logistik turun dan diikuti dengan pengembangan sumber daya manusia. Akan tetapi, kalau kita mulai sesuatu dengan ide brilian dan dieksekusi oleh tim yang biasa-biasa saja, maka hasilnya akan biasa-biasa saja.

Namun, bila kita memulai ide sederhana dan dieksekusi oleh orang-orang brilian, maka hasilnya akan brilian.

Oleh karena itu, kesuksesan ditentukan oleh keberhasilan dan kemampuan kita mengeksekusi ide. Hal ini harus ditopang kerja sama seluruh pemangku kepentingan terutama dunia usaha, pemerintah, dan pekerja.

Kemampuan Indonesia menaklukkan gelombang IR 4.0 adalah dengan memberikan perhatian serius dalam menyiapkan angkatan kerja memasuki pasar kerja yang jumlahnya mencapai 2,7 juta orang per tahun.

Anggaran pendidikan 20% dari APBN harus dimanfaatkan seoptimal mungkin menyiapkan mereka menjadi tenaga kerja yang kompeten dan produktif.

Adapun pekerja yang sudah berada di pasar kerja, tetap harus ditingkatkan kualitasnya melalui pelatihan dan program sertifikasi profesi. Mereka bisa dilatih untuk mendapatkan ketrampilan baru atau meningkatkan keahlian yang sudah dimiliki.

Pemerintah bersama pemangku kepentingan juga perlu mengidentifikasi ketersediaan pekerja profesional dan kompeten di setiap sektor industri prioritas.

Kemudian, pemerintah bersama pemangku kepentingan menyiapkan program pelatihan yang dibutuhkan untuk menghadapi disrupsi digital dan skenario mitigasi risiko yang dibutuhkan dalam menyelamatkan pekerja di pasar kerja.

Semua upaya ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Memang, ini bukan masalah anggaran semata. Bagaimana kita menyiapkan ekosistem ketenagakerjaan yang mendukung pengembangan dan penyiapan tenaga kerja yang professional dan kompeten juga penting.

Artinya, tantangan dalam memenangkan kompetisi global bukan bergantung pada besarnya anggaran semata. Ekosistem ketenagakerjaan tersebut yang nanti menjadi salah satu kunci memenangkan kompetisi.

Untuk itu, selain koordinasi dan kerja sama, kita membutuhkan peta jalan dan tahapan-tahapan pencapaian tujuan sehingga proses eksekusi pun bisa dijalankan dengan disiplin ketat. Peran ekosistem pendanaan yang kuat dan tekad pekerja untuk terus kompetitif sangat menentukan keberhasilan strategi besar yang telah disepakati.

Ibarat lomba lari maraton estafet, kita membutuhkan kekompakan, kesamaan visi, serta disilipin dalam eksekusi. Kini saatnya kita harus bersatu. Bukan untuk masa kini semata, tetapi untuk generasi penerus bangsa Indonesia yang lebih produktif, kompeten, dan sejahtera. Selamat Hari Buruh 1 Mei 2019.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (29/4/2019)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
may day, hari buruh, perspektif, Revolusi Industri 4.0

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top