Suku Bunga BI : Bertahan 6% Demi Pasar & Stabilitas Ekonomi  

Rapat Dewan Bank Indonesia (BI) pada 24-25 April 2019 diprediksi akan menahan suku bunga acuannya pada level 6%.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 25 April 2019  |  12:31 WIB
Suku Bunga BI : Bertahan 6% Demi Pasar & Stabilitas Ekonomi  
suku bunga

Bisnis.com  JAKARTA--Rapat Dewan Bank Indonesia (BI) pada 24-25 April 2019 diprediksi akan menahan suku bunga acuannya pada level 6%.

Keputusan tersebut diyakini akan memberikan sentimen positif bagi pasar  dan memperkuat stabilitas ekonomi dalam negeri.

Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk. Ryan Kiryanto menuturkan BI akan pertimbangan dari faktor eksternal dan internal. 

Dari sisi eksternal, arah gerak fed fund rate (FFR) semakin longgar atau dovish dimana The Fed tidak lagi agresif menaikkan FFR.

Bahkan, FFR akan bertahan pada level 2,25-2,50% hingga akhir 2019 karena sudah ada indikasi perlambatan pertumbuhan ekonomi AS di bawah 3% tahun ini atau tepatnya berkisar 1,9-2,1%.

Pilihan The Fed ada dua, antara menahan FFR di level saat ini yg 2,25%-2,50% hingga akhir tahun 2019 atau menurunkan FFR hanya sekali sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 2,0%-2,25% hingga akhir tahun 2019. 

Dari faktor internal, Ryan melihat BI dan pemerintah memiliki stance atau pandangan yang sama, yakni stability over growth atau memprioritaskan stabilitas seraya menjaga momentum pertumbuhan.

"Sehingga pilihan paling rasional dan strategis adalah RDG BI tetap menahan BI 7-DRR Rate di level 6%. Juga deposit facility dan lending facility di level yang tetap," ungkap Ryan, Rabu (25/04/2019). 

Level bunga acuan yang 6% saat ini sesungguhnya sudah diyakini pasat (priced in / factored in).

Level 6% ini sudah mempertimbangkan peluang FFR bertahan di level sekarang ini hingga akhir 2019 ini. 

Langkah BI yang tahun 2018 lalu secara agresif menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 bps dari 4,25% ke 6% merupakan langkah preemptive dan ahead the curve yang tepat mengiringi kenaikan FFR 100 bps pada saat itu.

"Sehingga jika RDG BI saat ini tidak menaikkan BI 7-DRR Rate adalah langkah tepat," kata Ryan.

Keputusan ini bisa membantu penguatan daya tahan ekonomi Indonesia terhadap tekanan eksternal a.l trade war, risiko geopolitik, perlambatan ekonomi global, melemahnya harga komoditas dan Brexit, serta menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya rupiah, dan mempertahankan daya tarik investor asing untuk memegang aset dalam rupiah karena lebih atraktif. 

Di sisi lain, suku bunga acuan 6% membantu masuknya dana asing atau capital inflows yang dapat menguatkan kurs rupiah, IHSG dan memperkecil defisit transaksi berjalan (CAD) mendekati 2% dari PDB. 

Alhasil, momentum pertumbuhan  masih bisa dikelola dengan baik. 

"Ditahannya BI 7-DRR Rate akan disambut gembira kalangan perbankan, sektor riil dan investor portofolio karena level 6% ini dinilai akomodatif," tegas Ryan. 

Lebih lanjut, relaksasi kebijakan makroprudensial seperti LTV, RIM dan PLM bisa dilanjutkan atau diperkuat sehingga bauran kebijakan BI akan sangat tepat menjadi jamu manis untuk memperkuat daya tahan perekonomian nasional. 

Pasca pemilu, Ryan melihat roda perekonomian akan bergerak lebih cepat untuk menjaga momentum pertumbuhan pada kisaran 5,2-5,3% tahun ini. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top