Belum Ada Penelitian Dampak Pembangkit Geothermal di Papandayan

Status cagar alam Guntur Papandayan menjadi hal kontradiktif dengan aktivitas industri pembangkitan di dalamnya.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 22 April 2019  |  13:49 WIB
Belum Ada Penelitian Dampak Pembangkit Geothermal di Papandayan
Ilustrasi: Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, GARUT – Conservation International Indonesia mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian mengenai dampak pembangkit geothermal dalam kawasan cagar alam Guntur Papandayan, Jawa Barat.

Senior Manager Terrestrial Program Conservation International (CI) Indonesia Anton Rio mengakui dalam sejarahnya seharusnya tidak terjadi penurunan status cagar alam menjadi kawasan taman wisata alam seperti di kawasan Konservasi Guntur Papandayan.

Adapun status cagar alam memastikan biodiversity atau keanekaragaman hayati di dalam hutan terjaga. Bagi dia, masuk ke hutan dan menginjak tanahnya saja merupakan bagian dari merusak ekosistem di dalamnya.

Dia mengakui pengecualian memang dilakukan di kawasan konservasi Guntur Papandayan karena adanya beberapa aktivitas yang telah berlaku jauh sebelum berstatus cagar alam. Adapun sejak 1974, kawasan tersebut telah terdapat pemanfaaatn jasa lingkungan berupa pans bumi (PJLB). Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan aliran air dalam kawasan untuk mendukung aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, adanya pembangkit geothermal dalam kawasan hutan haruslah melihat potensi dan dampak yang dihasilkan. Selama pembangkit tersebut tidak memberikan masalah bagi ekosistem tentu bukan sebuah persoalan. Hanya saja, status cagar alam Guntur Papandayan menjadi hal kontradiktif dengan aktivitas industri pembangkitan di dalamnya. 

“Persoalan kita kan adalah status kawasan, misalnya ada potensi panas bumi di areal hutan lindung dan itu bukan kawasan konservasi, itu tidak berbenturan, tapi ini [Guntur Papandayan] adalah kawasan konservasi khususnya cagar alam,” katanya, Minggu (21/4/2019) malam.

Dia mengakui hingga saat ini memang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai dampak dari pembangkit geothermal di Guntur Papandayan. Namun, dia memberi contoh pembangkit serupa yang ada di Taman Nasional Gunung Halimum Salak.

Menurutnya, walaupun ada pembangkit, tetapi aktivitas ekosistem di kawasan itu masih terhitung cukup baik. Bahkan, area pembangkita dinilai menjadi wilayah yang paling aman bagi satwa liar di sana dari aktivitas manusia.

“Sebenarnya bukan bagaimana kegiatan [pembangkitan] itu tidak berdampak tetapi harus diminimalkan, indikatornya adalah keanekaragaman hayati selain seperti sungai tidaa mati,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
panas bumi

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top