IIS 2019 Gerbang Indonesia Menuju 10 Besar Ekonomi Dunia

Kementerian Perindustrian menjabarkan capaian program Making Indonesia 4.0 sepanjang setahun terakhir, dalam Indonesia Industry Summit (IIS 2019), Senin (15/04/2019).
MediaDigital
MediaDigital - Bisnis.com 16 April 2019  |  09:59 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perindustrian menjabarkan capaian program Making Indonesia 4.0 sepanjang setahun terakhir, dalam Indonesia Industry Summit (IIS 2019), Senin (15/04/2019).

Dalam IIS dengan tema “Implementasi Making Indonesia 4.0 Menuju Indonesia Menjadi Negara 10 Besar Ekonomi Dunia” itu, disebutkan pemerintah telah menjalankan langkah-langkah strategis untuk mendukung percepatan adopsi industri 4.0. 

“Studi McKinsey menunjukkan, program berpeluang meningkatkan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesar USD120-150 Miliar pada 2025. Selain itu, meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Indonesia Industrial Summit (IIS) 2019 di Tangerang, Senin (15/4).

Adapun capaian tersebut yakni, pertama, realisasi Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), atau indikator penilaian tingkat kesiapan industri di Indonesia, dengan memberikan penghargaan untuk lighthouse industry dan perusahaan pemenang INDI 4.0.

Penerima penghargaan itu adalah (1) PT. Indolakto untuk sektor industri makanan minuman, (2) PT. Pupuk Kaltim untuk sektor industri kimia, (3) PT. Pan Brothers, Tbk untuk sektor industri tekstil, (4) PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia untuk sektor industri otomotif, dan (5) PT. Hartono Istana Teknologi untuk sektor industri elektronika.

Adapun tahap awal assessment INDI 4.0 telah diikuti oleh 326 perusahaan industri dari sektor industri makanan dan minuman, tekstil, kimia, otomotif, elektronika, logam, aneka, dan sektor engineering, procurement, and construction (EPC).

Penilaian INDI 4.0 menggunakan mekanisme self-assessment oleh perusahaan dengan mengukur lima pilar, yaitu manajemen dan organisasi, manusia dan budaya, produk dan layanan, teknologi, serta operasional pabrik.

Rentang skor penilaian INDI 4.0 adalah dari level 0 (belum siap) yang artinya “belum siap” bertransformasi ke industri 4.0, kemudian level 1: industri masih pada tahap “kesiapan awal”, level 2: industri pada tahap “kesiapan sedang”, level 3: industri sudah pada tahap “kesiapan matang” bertransformasi ke industri 4.0, dan level 4: industri “sudah menerapkan” sebagian besar konsep industri 4.0 di sistem produksinya.

“Secara umum, industri manufaktur Indonesia berada dalam posisi cukup siap menerapkan industri 4.0,” ujar Menperin.

Langkah selanjutnya adalah menjadi official country partner pada Hannover Messe 2020 yang merupakan pameran teknologi industri terbesar di dunia, untuk mengkampanyekan Making Indonesia 4.0 secara global. 

Upaya lainnya adalah melaksanakan program Making Indonesia 4.0 Start-Up yang bertujuan menggali ide-ide inovasi dari perusahaan-perusahaan start-up berbasis teknologi. Dari 84 peserta yang lolos seleksi, terpilih lima start-up terbaik dengan inovasi teknologi yang siap dikomersialkan. “Kami mengharapkan start-up di tanah air semakin menyadari pentingnya infrastruktur digital yang menjadi ciri penerapan Industri 4.0 seperti cloud computing untuk mendukung bisnisnya,” kata Menperin.

Selain itu Menperin menegaskan era revolusi industri 4.0 menuntut kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam penguasaan teknologi. Era ini diprediksi membuka lapangan kerja baru hingga 18 juta orang, dengan 4,5 tenaga kerja baru diserap sektor industri dan 12,5 juta lainnya sektor jasa penunjang industri.

Sementara itu, Kemenperin menegaskan industri manufaktur berkontribusi kepada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 20 persen saat ini, dan menempatkan Indonesia di peringkat kelima di antara negara G20.

Posisi Indonesia berada setelah China, dengan sumbangsih industri manufakturnya mencapai 29,3 persen. Kemudian, disusul Korea Selatan (27,6%), Jepang (21%) dan Jerman (20,7%). 

Selain itu, katanya, saat ini Indonesia masuk dalam 16 besar negara yang memiliki perekonomian terkuat di dunia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menegaskan Indonesia tidak sedang dalam fase deindustrialisasi. “Berdasarkan capaian kontribusi sektor manufaktur kita saat ini, tidak benar kalau deindustrialisasi,” jelasnya.

Menurutnya, selama ini sektor industri manufaktur memberikan kontribusi besar terhadap PDB nasional. Dalam kurun 4 tahun terakhir, rata-rata sumbangsihnya mencapai 21,30 persen.

Indonesia Industrial Summit 2019 diselenggarakan pada 15-16 April 2019 di Indonesia Exhibition BSD Tangerang. Kegiatan ini merupakan forum konsolidasi para pemangku kepentingan untuk membangun rumusan bersama mengenai langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan dalam mengakselerasi transformasi digital sektor industri manufaktur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri, kemenperin

Editor : MediaDigital

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top