Tiket Pesawat Diperkirakan tak Picu Laju Inflasi

Tarif angkutan udara yang melonjak naik diyakini tidak akan memicu  laju inflasi.
Hadijah Alaydrus | 01 April 2019 19:18 WIB
Petugas layanan check-in penumpang beraktivitas di Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, Sumatra Utara, Rabu (13/2/2019). - ANTARA FOTO/Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA –Tarif angkutan udara yang melonjak naik diyakini tidak akan memicu  laju inflasi.

Ekonom PT Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro melihat inflasi beberapa bulan mendatang akan tetap rendah karena musim panen akan segera datang pada Maret dan April ini. 

"Tetapi ini penting bagi para pengambil kebijaka untuk tidak menganggap enteng risiko dari inflasi transportasi yang meningkat 3,13% pada Maret ini," ungkap Satria, Senin (01/04/2019).

Kenaikan tarif ini pola yang tidak biasa di dalam sejarah inflasi, karena tarif tiket pesawat biasanya akan kembali normal pasca musim liburan usai. Selain itu, kenaikan harga tiket pesawat diikuti oleh penurunan yang substansial di sisi penumpang domestik pada Maret lalu. Penurunannya tercatat sebesar 15,46% (mtm/month to  month) dan 18,51% (year on year).

"Ini dapat berdampak pada devisa pariwisata," ujar Satria. 

Di sisi lain, dia melihat inflasi yang terkendali dapat memberikan dampak positif terhadap aliran dana masuk ke pasar surat utang dalam negeri sehingga memberikan angin segar bagi neraca finansial. Dengan adanya rilis inflasi, imbal hasil surat utang pemerintah berdenominasi 10 tahun mengalami rally ke level 7,59%, sebelum akhirnya ditutup sebesar 7,61%. 

Inflasi yang rendah ini membuat return riil dari surat utang pemerintah Indonesia lebih menarik dibandingkan negara-negara lain di kawasan.  Satria mencontohkan imbal hasil surat utang Indonesia bertenor 10 tahun lebih tinggi 30 basis poin (bps) dibandingkan surat utang India dengan tenor yang sama. Padahal, dua negara ini memiliki laju Indeks Harga Konsumen (IHK) dan defisit transaksi berjalan yang identik. 

Namun, Indonesia diuntungkan oleh postur fiskal dan kebijakan moneter yang saling berkoordinasi dengan baik. 

Laju inflasi yang terendah Indonesia dalam hampir 10 tahun ini merupakan bukti dari reformasi ekonomi struktural yang paling sukses, terutama penanganan inflasi harga pangan bergejolak. 

Menurut Satria, inflasi pangan yang terkendali ini disebabkan oleh tiga faktor utama.

Pertama, manajamen permintaan dan pasokan bahan pangan yang efisien antara pemangku kebijakan di daerah. Kedua, peningkatan produktivitas di kalangan bisnis lokal. Ketiga, keberhasilan bank sentral dalam mentransmisikan kebijakan moneter ke sektor riil secara efisien dan kesuksesan menjangkar ekspektasi inflasi. 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Inflasi, tiket pesawat

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup