Erdogan, Intervensi Ekonomi Turki, dan JPMorgan

Tak main-main upaya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperkuat cengkeramannya pada ekonomi negeri tersebut. Menjelang pemilihan umum lokal yang diagendakan berlangsung pada 31 Maret 2019, langkah pemerintahan Erdogan tampak intensif.
Renat Sofie Andriani | 28 Maret 2019 10:40 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Tak main-main upaya Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperkuat cengkeramannya pada ekonomi negeri tersebut. Menjelang pemilihan umum lokal yang diagendakan berlangsung pada 31 Maret 2019, langkah pemerintahan Erdogan tampak intensif.

Dalam delapan bulan terakhir, pemerintahannya telah memberlakukan kontrol harga, memaksa para pemberi pinjaman untuk menjaga kredit mengalir, serta melarang penggunaan dolar Amerika Serikat (AS) dalam sebagian besar kontrak.

Yang terbaru, Erdogan mengincar bankir-bankir asing, dengan tekad untuk melakukan investigasi terhadap JPMorgan Chase & Co. karena memprediksi penurunan mata uang lira dalam laporan yang diterbitkan pekan lalu.

“Ini semua adalah langkah yang bertentangan dengan gagasan ekonomi pasar. Pemerintah terlalu banyak campur tangan,” ujar Cristian Maggio, kepala riset emerging market di TD Securities, London, seperti diberitakan Bloomberg.

Saham dan obligasi negara tersebut ambrol setelah pemerintah berupaya mengatur krisis mata uang guna mencegah penurunan lira beberapa hari sebelum pemilu penting yang bakal menguji dukungan terhadap pemerintahan Erdogan.

Offshore overnight swap rate melonjak melampaui 1.000% ketika bank-bank mendapat tekanan untuk tidak memberikan likuiditas kepada pengelola-pengelola dana asing yang ingin bertaruh terhadap lira. Mata uang Turki ini masih turun hampir 2%.

Saat resesi di Turki mereda pascakejatuhan mata uang pada musim panas lalu dan aksi jual di pasar lokal, pertaruhannya semakin tinggi.

Turki mengandalkan modal asing untuk membiayai pertumbuhannya yang didorong kredit pada 2016-2017. Sepanjang periode tersebut, arus masuk portofolio mencapai rata-rata US$1,3 miliar per bulan dan transaksi berjalan turun lebih dalam menjadi defisit.

Tahun lalu, para investor ramai-ramai melepaskan aset Turki dan arus dana keluar terus berlangsung selama delapan bulan berturut-turut sebelum mulai stabil.

Pekan ini, pemerintah Turki semakin menggoyang pasar dengan mencegah bank-bank asing mengakses lira yang mereka butuhkan untuk menutup posisi swap mereka.

Ini membuat para bankir hampir mustahil untuk mengambil posisi short pada lira atau keluar dari aktivitas carry trades, yakni mengambil keuntungan dari perbedaan tingkat suku bunga. Offshore overnight swap rate atau biaya untuk investor yang menukar mata uang asing dengan lira selama periode tertentu, pun naik sekitar 1.000% dari 23%.

Sejumlah bank asing tidak dapat memenuhi kewajiban mereka pada penutupan perdagangan Selasa (26/3/2019), sehingga memaksa bank sentral memperpanjang jam untuk mentransfer dana di Turki menjadi pukul 9 malam waktu setempat, menurut seorang pejabat senior Turki.

Pada Rabu (27/3/2019), pasar saham dan obligasi Turki menerima pukulan terbesar dari tindakan yang dimaksudkan untuk melindungi lira. Saham perbankan turun lebih dari 7% dan imbal hasil obligasi lira bertenor 10 tahun naik 74 basis poin menjadi 18,23%.

Pertaruhan Erdogan akan menjadi bumerang apabila permasalahan ekonomi dibiarkan memburuk. Namun seiring dengan mendekatnya waktu pemilu lokal akhir pekan ini, industri-industri termasuk ritel, perbankan, dan farmasi harus tunduk pada keinginan pemerintah.

Erdogan telah melonggarkan tekanan pada bank sentral sejak tekadnya untuk mengambil kendali kebijakan moneter turut membuat lira mengalami krisis musim panas lalu.

Namun retorikanya telah mulai kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Erdogan mengecam pihak yang mencurangi harga-harga makanan sebagai pengkhianat dan teroris. Ia juga mengancam bahwa para bankir akan merasakan akibatnya menyusul hiruk pikuk spekulasi soal lira.

“Pertanyaannya adalah apakah Erdogan akan dapat menahan diri setelah pemilu,” tutur Fadi Hakura, analis Chatham House.

“Turki perlu mengadopsi tindakan jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan Erdogan tidak memiliki kesabaran itu. Jika dia kehilangan kota-kota besar dalam pemilu, ledakan langkah-langkah pertumbuhan ekonomi yang lebih intervensionis mungkin datang, seperti memompa kredit ke dalam ekonomi,” lanjut Hakura.

Pemerintah telah bersandar pada bank-bank untuk memulai kembali pinjaman, menekan mereka untuk memberikan kredit murah kepada industri-industri yang mencakup pertanian dan olahraga, serta membantu konsumen melunasi utang mereka atau mendapatkan suku bunga di bawah pasar.

Bank-bank negara khususnya, memberikan pinjaman untuk menjaga pasar perumahan tetap bertahan. Suku bunga rata-rata hipotek di Turki telah turun dari sekitar 30% pada Oktober 2018 menjadi 17% pada Maret 2019.

Namun upaya itu terbayarkan dengan adanya ekspansi pertama dalam pemberian pinjaman sejak Agustus lalu, sebuah peningkatan yang sebagian besar kembali didorong oleh bank-bank negara.

Sementara itu, pemberi pinjaman swasta memilih lebih berhati-hati karena mereka menolak memberikan kredit ketika berurusan dengan permintaan restrukturisasi utang dari perusahaan-perusahaan dan tumpukan kredit macet senilai miliaran dolar AS.

Menurut Refet Gurkaynak, seorang profesor ekonomi di Universitas Bilkent di Ankara, bukan pertentangan Erdogan terhadap pasar bebas yang harus disalahkan atas keadaan Turki saat ini. Intervensi pemerintahlah yang justru akan memperburuk keadaan.

“Kontrol harga yang salah dan kegagalan untuk merapikan neraca hanya akan menunda perhitungan dan menciptakan tantangan yang lebih besar di dalam perjalanannya,” Gurkaynak berpendapat.

“Kebijakan-kebijakan ekonomi yang buruk memiliki hasil yang buruk. Dan mereka merespons hasil-hasil buruk ini dengan kebijakan-kebijakan yang bahkan lebih buruk,” tambahnya.

Pertentangan Erdogan dengan pasar mencapai titik terendahnya pekan lalu ketika lira kehilangan 6,9% dari nilainya terhadap dolar AS hanya dalam hitungan jam.

Pemerintah telah memulai penyelidikan terpisah terhadap JPMorgan dan bank-bank lain, karena dinilai berperan dalam pelemahan tajam yang dialami lira pekan lalu dan menyebabkan volatilitas di pasar keuangan.

Para komentator di pasar Turki berhati-hati dalam berucap karena khawatir terseret investigasi. Bank-bank investasi yang memprediksikan beratnya kondisi ekonomi Turki di masa mendatang atau pun yang menyerukan kenaikan suku bunga untuk mengatasi masalah itu, tahu-tahu ditampilkan di surat kabar dan program TV pro-pemerintah.

Awal tahun ini, CEO unit lokal HSBC Holdings Plc dituduh telah menghina presiden, tindakan yang dianggap kejahatan di Turki. Meski Turki telah meningkatkan tekanan pada para analis di dalam negeri, penargetan JPMorgan berisiko menghadapi konfrontasi terburuk dengan sebuah bank global di era Erdogan.

“Membuka penyelidikan terhadap JPMorgan sama sekali tidak masuk akal, ini adalah hasil dari tindakan pihak otoritas yang semakin agresif,” ujar Umit Ozlale, seorang profesor ekonomi di Universitas Ozyegin di Istanbul.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
turki, jpmorgan, Recep Tayyip Erdogan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup