Peningkatan Kebutuhan Energi dari Sektor Transportasi Perlu Diwaspadai

Pertumbuhan permintaan energi global tercatat 2,3% pada 2018 atau yang tercepat dalam 10 tahun terakhir. Konsumsi dari energi fosil masih menopang permintaan sebesar 70%.
David Eka Issetiabudi | 28 Maret 2019 18:45 WIB
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Pertumbuhan permintaan energi global tercatat 2,3% pada 2018 atau yang tercepat dalam 10 tahun terakhir. Konsumsi dari energi fosil masih menopang permintaan sebesar 70%.

Untuk Indonesia, konsumsi energi terdorong karena pertumbuhan produksi kendaraan bermotor. Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan dengan adanya kondisi tersebut, perlu dipertimbangkan untuk lekas beralih ke energi listrik.

"Kalau pakai listrik kita berdaulat, karena tidak impor. Makanya sekarang kami dorong kendaraan listrik," tuturnya, Kamis (28/3/2019).

Berdasarkan data Gaikindo, produksi mobil tercatat 1,34 juta unit atau mengalami pertumbuhan 10,4% dari tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,15 juta unit digunakan untuk pasar domestik.

Dalam kurun lima tahun terakhir pertumbuhan produksi mobil untuk pasar domestik tercatat 5,6%.

Dengan pertumbuhan produksi mobil yang ada, Arcandra mengaku belum memiliki data pasti berapa pertumbuhan konsumsi BBM. Dia juga membandingkan dengan pertumbuhan konsumsi energi untuk kendaraan dengan listrik yang memiliki perhitungan berbeda.

"Ya kan sfiting semua [ke listrik] pada 2040 kan katanya kan gak jual kendaraan mesin. Meski kendaraan mesin masih ada kan," tambahnya.

Dalam kajian International Energy Agency, Permintaan energi di seluruh dunia tumbuh 2,3% pada 2018 atau menjadi yang tercepat dalam 10 tahun terakhir.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi, transportasi, BBM

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup