Jeda Pengetatan The Fed Buka Pintu Pelonggaran Bagi Bank Sentral Asia

Pergeseran kebijakan tiba-tiba Federal Reserve telah membuka pintu bagi penurunan suku bunga di Asia karena inflasi masih rendah dan pertumbuhan ekonomi melambat.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 21 Maret 2019  |  16:12 WIB
Jeda Pengetatan The Fed Buka Pintu Pelonggaran Bagi Bank Sentral Asia
the Federal Reserve di Washington D.C. - Ilustrasi/en.wikipedia.org

Bisnis.com, JAKARTA – Pergeseran kebijakan tiba-tiba Federal Reserve telah membuka pintu bagi penurunan suku bunga di Asia karena inflasi masih rendah dan pertumbuhan ekonomi melambat.

Kondisi ini sangat bertolak belakang dari kondisi empat bulan lalu ketika prospek kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve AS menghantam mata uang di Asia dan menekan defisit transaksi berjalan.

Saat ini, fokus di seluruh wilayah bergeser ke kekhawatiran domestik sebagai pendorong utama kebijakan moneter. Bank-bank sentral di Indonesia dan Filipina, yang termasuk di antara bank sentral paling paling agresif tahun lalu, mempertahankan suku bunganya pada seperti yang diharapkan, di tengah tekanan inflasi yang lemah.

"Pergeseran besar The Fed akan mengakhiri gelombang pengetatan untuk bank sentral di Asia dan membuka pintu untuk pelonggaran di masa mendatang," kata Hak Bin Chua, ekonom di Maybank Kim Eng Research Pte, seperti dikutip Bloomberg.

Reli penguatan mata uang juga mendorong adanya pelonggaran. Yuan China telah memimpin kenaikan di antara mata uang emerging market Asia tahun ini setelah menguat hampir 3% terhadap dolar dan diikuti oleh baht Thailand.

Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,0%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan kebijakan suku bunga akan difokuskan pada stabilitas nasional dengan menempuh kebijakan lain yang lebih akomodatif untuk mendorong permintaan domestik.

Sementara itu, Bank-bank investasi termasuk Goldman Sachs Group dan Morgan Stanley memperkirakan penurunan suku bunga di Asia akan dimulai pada kuartal kedua tahun ini.

Bangko Sentral ng Pilipinas juga mempertahankan suku bunga acuannya pada 4,75%, dengan Gubernur yang baru ditunjuk Benjamin Diokno mengatakan pengaturan kebijakan moneter yang berlaku sudah tepat.

Dia sebelumnya telah mengisyaratkan kesediaan untuk melonggarkan kebijakan setelah kenaikan 175 basis poin pada tahun 2018.

Bank sentral Taiwan juga dijadwalkan mengadakan rapat kebijakan pekanini dan diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di 1,375%.

Meskipun ekonomi China diperkirakan akan stabil sekitar pertengahan tahun, seluruh wilayah lainnya terus merasakan penurunannya. Ekspor Korea Selatan, yang menjadi pemimpin utama perdagangan global, turun 4,9% dari tahun sebelumnya selama 20 hari pertama bulan Maret, data Kamis menunjukkan.

"Dengan Fed bersikap dovish, bank sentral Asia sekarang dapat menurunkan suku bunga riil," kata Trinh Nguyen, ekonom senior di Natixis Asia Ltd.

Keputusan The Fed juga akan berperan di negara-negara maju, dengan bank sentral di Inggris, Norwegia dan Swiss dijadwalkan mengadakan rapat kebijakan hari ini. Sementara kenaikan harga minyak diperkirakan akan memacu kenaikan suku bunga di Norwegia, Swiss National Bank dan Bank of England diperkirakan akan menahan suku bunga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, Kebijakan The Fed, suku bunga acuan

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top