Aperindo Keluhkan Lambannya Bongkar Muat Kargo Pelabuhan

Kapal kargo mendapat giliran terakhir melakukan bongkar muat setelah penumpang, sembako, BBM, semen, dan kapal emergency. Alhasil harus menunggu sampai tiga hari untuk bisa merapat ke dermaga.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  14:59 WIB
Aperindo Keluhkan Lambannya Bongkar Muat Kargo Pelabuhan
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspress, Pos dan Logistik (Asperindo) mengeluhkan lambannya bongkar muat kargo di pelabuhan.

Hal ini disebabkan oleh minimnya fasilitas pelabuhan yang berujung pada lambannya proses bongkar muat sehingga kapal kargo harus menunggu tiga hari.

Wakil Ketua Umum Asperindo, Budi Paryanto mengeluhkan lamanya aktivitas bongkar muat di pelabuhan ketika melakukan pengiriman melalui jalur laut.

"Jadi untuk jalur laut itu kendalanya adalah lamanya bongkar muat. Hal ini terjadi akibat di sebagian besar pelabuhan kita hanya punya 1 dermaga untuk kapal merapat bongkar barang," terangnya kepada Bisnis, Kamis (28/2/2019).

Budi menuturkan selama ini dalam berbagai kondisi dan situasi kapal pembawa kargo berada pada prioritas terakhir dalam aktivitas bongkar muat pelabuhan.

Ketika ada kapal Pelayaran Indonesia (Pelni) yang membawa penumpang, maka kapal kargo harus mengalah dan membiarkan dermaga digunakan terlebih dahulu oleh angkutan penumpang.

"Setelah itu kapal yang membawa sembako, terus kapal semen atau BBM, belum lagi kalau ada kapal emergency milik BNPB/D [Badan Nasional Penanggulangan Bencana/Daerah] dan atau Kapal Polisi Air [Polair], kapal kargo ke tengah lagi, tidak bisa bongkar," jelasnya.

Selain itu, ada keterbatasan crane dan sarana bongkar lainnya yang sangat minim. Akibatnya, masa tunggu bongkar kapal bisa berkisar 2-3 hari, padahal kiriman tersebut merupakan kiriman domestik.

Dia menyebut lambatnya bongkar muat tersebut terjadi hampir di seluruh pelabuhan yang ada di Indonesia.

Dengan demikian, dia berharap adanya infrastruktur penunjang di pelabuhan seperti dermaga dan crane untuk meningkatkan kecepatan aktivitas bongkar muat.

Sepanjang 2015-2018, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah membangun pelabuhan laut non komersial sebanyak 104 lokasi. Selain itu juga melakukan pengembangan hub internasional Kuala Tanjung serta pengembangan Makassar New Port.

"Jadi pelabuhan sudah banyak tapi utilisasinya rendah akibat infrastruktur penunjangnya kurang memadai dan masih jadi satu antara pelabuhan kapal barang dan kapal penumpang, apalagi di daerah itu banyak KM [Kapal Motor] yang angkut penumpang antar pulau," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
asperindo

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top