Setelah Kolombia, CPOPC Bidik Keanggotaan Pantai Gading dan Thailand

Setelah menetapkan Kolombia sebagai anggota terbaru dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Pantai Gading dan Thailand menjadi negara bidikan terbaru untuk dapat bergabung memperkuat kerja sama antar negara penghasil kelapa sawit di dunia. 
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  09:20 WIB
Setelah Kolombia, CPOPC Bidik Keanggotaan Pantai Gading dan Thailand
Perkebunan kelapa sawit - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -  Setelah menetapkan Kolombia sebagai anggota terbaru dalam Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Pantai Gading dan Thailand menjadi negara bidikan terbaru untuk dapat bergabung memperkuat kerja sama antar negara penghasil kelapa sawit di dunia. 

Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun, menilai bahwa dengan bergabungnya negara incaran tersebut, diharapkan dapat memperkuat upaya mengkampanyekan penggunaan kelapa di dunia.

"Tadi kami usulkan untuk tambah keanggotaan dari Pantai Gading. Karena negara itu juga sangat menentang kebijakan Eropa yang menyisihkan pemakaian kelapa sawit," ujarnya usai menghadiri Rakor Persiapan The 6th Ministerial Meeting CPOPC, di Kemenko Perekonomian, Selasa (26/2/2019).

Menurut Derom, meskipun produksi CPO dari Pantai Gading masih cukup kecil dibandingkan anggota CPOPC lainnya, namun pengalaman negara tersebut dalam menghadapi kampanye negatif penggunaan CPO dari Eropa dapat juga menjadi pembelajaran.

Volume produksi CPO terbesar dunia saat ini masih dikuasai oleh Indonesia, Malaysia, Thailand dan Kolombia. Volume CPO di Pantai Gading sekitar 300.000 - 600.000 ton. 

"Mereka pernah membawa salah satu perusahaan di Eropa yang mengkampanyekan anti pemakaian minyak sawit. Jadi ada produk biskuit yang di sana juga dituliskan ini tanpa minyak sawit, dan Pantai Gading merasa itu menyudutkan petaninya dan digugat ke pengadilan niaga di Paris dan menang," jelasnya. 

Selain Pantai Gading, lanjut Derom, negara yang juga potensial untuk dapat diajak bergabung sebenarnya adalah Thailand, dengan produksi CPO mereka yang berada lebih dari sekitar 2,5 juta ton. 

Namun demikian, nampaknya untuk mengandeng Thailand dalam waktu dekat, masih memerlukan waktu. Pasalnya negeri Gajah Putih tersebut saat ini juga diketahui sedang konsentrasi penggunaan CPO mereka untuk di konsumsi dalam negerinya.

"Thailand nampaknya masih konsentrasi dalam negeri karena produksinya habis dalam negeri," ujarnya.

Sementara itu Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono juga mengatakan hal senada bahwa Pantai Gading dan juga Thailand sudah menjadi target untuk diajak menjadi anggota CPOPC, setelah masuknya Kolombia. 

"Setelah Kolombia, kita harapkan beberapa negara juga bisa bergabung. Yang potensial Pantai Gading dan Thailand. Tapi yang sudah siap masuk kan Kolombia," ujarnya.

Pihaknya berharap dengan semakin banyaknya negara penghasil kelapa sawit di dunia dalam CPOPC, maka akan semakin memperkuat upaya dalam menghadapi sejumlah kampanye negatif mengenai kelapa sawit. 

Sebelumnya diketahui bahwa pada penyelenggaraan 5th Ministerial Meeting CPOPC di Putrajaya, Malaysia, November 2018, selain menetapkan Malaysia secara resmi sebagai Chairman CPOPC terhitung mulai 1 Januari 2019 menggantikan Indonesia,  juga memutuskan beberapa langkah strategis dalam mempertahankan daya tawar kelapa sawit ditengah tantangan pasar global.

Sejumlah keputusan itu antara lain program keberpihakan terhadap petani,  penetapan Kolombia sebagai negara anggota CPOPC, penguatan mandatori biodiesel, dan strategi untuk mengatasi kampanye hitam di pasar global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kelapa sawit

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top