HARGA GAS : PGN Mengaku Berkorban di Sei Mangkei

PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) siap berkorban memberikan harga gas di bawah keekonimian untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei agar mendorong peningkatan permintaan gas di KEK tersebut.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 27 Februari 2019  |  10:23 WIB
HARGA GAS : PGN Mengaku Berkorban di Sei Mangkei
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) siap berkorban memberikan harga gas di bawah keekonimian untuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei agar mendorong peningkatan permintaan gas di KEK tersebut.

Direktur Komersial PGN Danny Praditya mengatakan mengupayakan untuk menekan harga gas di KEK Sei Mangkei di bawah US$10 per mmbtu. Menurutnya, aturan pembentukan harga di pipa transmisi ataupun distribusi yang ditentukan BPH Migas sudah mengacu pada keekonomian.

“Kan aturannya berdasarkan keekonomian, kalau di bawah [aturan BPH] itu? apakah masih di bawha keekonomian? Tapi kan kami lakukan untuk mendorong konsumsi,” tuturnya, Selasa (26/2/2019).

Sejauh ini distribusi gas untuk keperluan konsumen di KEK Sei Mangkei dilakukan oleh PT Pertagas, yang tahun lalu telah diakuisisi oleh PGN. Danny menambahkan diharapkan dengan adanya penurunan harga, konsumen di KEK Sei Mangkei dapat bertambah.

Sementara itu, Direktur Utama PT Pertagas Wiko Migantoro mengungkapkan harga gas yang diterapkan di KEK Sei Mangkei saat ini sudah berada di bawah harga keekonomian pipa. Akan tetapi, dengan adanya komponen biaya operasional perawatan pipa, harga lebih dapat ditekan.

Pertagas berharap dengan diturunkannya harga gas di Sei Mangkei permintaan dari KEK tersebut ikut terkerek. Pasalnya, saat ini hanya PT Unilever Oleochemical Indonesia yang membutuhkan pasokan gas dari Pertagas.

“Sekarang konsumsi Unilever baru 2,5 mmscfd, tetapi menurut pengelola kawasan potensinya bisa mencapai 60 mmscfd,” tambahnya.

Gas yang dilalirkan Pertagas untuk Unilever di Sei Mangkei dilakukan sejak Maret 2017 dengan kontrak harga yang bakal habis pada 2020. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Gas, gas alam

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top