ALFI: Tidak Semua Pemain Logistik Bisa Transparan Soal Tarif

Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jaya berpendapat bahwa platform marketplace yang akan dibangun oleh Pelindo II atau IPC kemungkinan sulit meminta seluruh pelaku usaha logistik transparan soal tarif.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  17:19 WIB
ALFI: Tidak Semua Pemain Logistik Bisa Transparan Soal Tarif
Suasana bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jaya berpendapat bahwa platform marketplace yang akan dibangun oleh Pelindo II atau IPC kemungkinan sulit meminta seluruh pelaku usaha logistik transparan soal tarif.

Wakil Ketua Umum Bidang Logistik dan Pergudangan ALFI DKI Jaya, Harry Sutanto mengatakan terdapat 14 mata rantai logistik di pelabuhan, mulai dari regulator, pemain, hingga supporting.

Platform, tutur dia, mungkin dapat menampilkan tarif bongkar muat, terminal, penumpukan, gudang, dan trucking, tetapi belum tentu bisa menjabarkan tarif keagenan.

"Sampai [di] jasa kepelabuhanan mungkin bisa, tetapi sampai end to end, biasanya market yang menentukan. Ini karena ikatan dengan agen sudah lama sehingga tidak bisa diseragamkan," katanya, Senin (25/2/2019).

ALFI DKI Jaya juga mengingatkan agar platform marketplace tidak didominasi oleh satu grup perusahaan sehingga seluruh pelaku usaha dalam ekosistem wilayah kerja IPC bisa tumbuh bersama.

Asosiasi pada prinsipnya mendukung rencana peluncuran platform sepanjang untuk mempercepat pelayanan dan transparansi tarif jasa kepelabuhanan.

"Yang kami khawatirkan adalah melalui platform digital yang disiapkan itu, Pelindo akan bermain dari hulu hingga hilir. Selain tidak menciptakan equal level of playing field di jasa logistik, juga bisa menjadi price maker, yang pada gilirannya malah tidak memberikan efek efisiensi," ujar Harry.

Dia menuturkan, sebenarnya tidak ada larangan bagi IPC dan anak-anak perusahaannya untuk berusaha. Namun, jika menuruti etika bisnis, IPC idealnya fokus pada bidang kepelabuhanan.

"Dengan segala kelebihannya serta posisi sebagai satu-satunya penyedia jasa kepelabuhanan di pelabuhan-pelabuhan komersial, apakah ekosistem yang ada mau semakin dimarginalkan [jika IPC bermain dari hulu ke hilir]?" ujar Harry.

ALFI menyadari, saat IPC bertransformasi menjadi trade facilitator, pelaku usaha lainnya juga wajib menyesuaikan dengan dinamika lingkungan bisnis yang bergerak ke arah digital.

Dengan demikian, tercipta ekosistem logistik yang saling mendukung, efisien, dan adaptif terhadap perubahan lingkungan usaha logistik. 

"Sepanjang pelayanan terakselerasi, biaya logistik turun, ekspor naik, kami support."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pelindo ii

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top