Industri 4.0: Cognex Bidik Pertumbuhan 2 Kali Lipat di Asean

Cognex Corporation, perusahaan industri untuk pembaca barcode dan machine vision, membidik target yang agresif dalam memperluas pasar di Asean.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 22 Februari 2019  |  19:55 WIB
Industri 4.0: Cognex Bidik Pertumbuhan 2 Kali Lipat di Asean
Ilustrasi logo revolusi industri 4.0. - Reuters/Wolfgang Rattay

Bisnis.com, SINGAPURA -- Cognex Corporation, perusahaan industri untuk pembaca barcode dan machine vision, membidik target yang agresif dalam memperluas pasar di Asean.
 
Vice President & Head of Asia Cognex Eric Moon menuturkan wilayah Asean, utamanya Indonesia, Thailand, dan Vietnam, merupakan pasar dengan industri manufaktur yang berkembang paling cepat. Perusahaan tersebut juga mengalokasikan investasi yang besar untuk wilayah ini.
 
“Hal itu membuat kami juga selalu membidik target yang pertumbuhan penjualan dan pendapatan yang agresif dari pasar ini, yakni 2 kali lipat setiap 2,5 tahun. Pasar ini banyak tantangan tetapi menarik dari sisi permintaan,” katanya dalam wawancara khusus dengan Bisnis, Rabu (19/2/2019).
 
Pasar Asean dinilai sulit diprediksi dan masing-masing memiliki perbedaan.  Singapura misalnya, memiliki sumber teknologi yang tinggi dalam pembuatan mesin dan teknologi manufaktur tetapi dihadapkan pada kondisi pasar manufaktur yang melesu.
 
Berbeda dengan Indonesia sebagai sasaran terbesar pasar manufaktur dibandingkan wilayah lainnya. Utamanya, untuk produk konsumen seperti rokok dan otomotif.

Namun, Cognex masih kesulitan dalam melakukan ekspansi secara menyeluruh di Indonesia karena wilayahnya yang luas dan pusat industri yang tersebar seperti di Jakarta, Batam, ataupun Surabaya.
 
Potensi Indonesia yang juga menarik adalah perkembangan industri untuk kemasan makanan dan minuman yang berkembang dan kualitasnya semakin membaik.
 
Di sisi lain, ada pula pasar manufaktur yang berkembang di Vietnam dan di Thailand. Kedua negara ini dipandang sudah matang dengan banyak perubahan yang terjadi dibandingkan sebelumnya.

Moon menyatakan kendati Vietnam merupakan pasar baru, tetapi pabrik di sana merupakan yang paling maju dengan teknologi.
 
Di Hanoi contohnya, banyak investor yang berinvestasi dalam jumlah besar dan ketika membangun pabrik untuk pertama kalinya akan langsung menyesuaikan dengan teknologi baru. Kondisi ini membuat Vietnam sebagai pasar yang unik karena minimnya pabrik tradisonal dan dimulai dengan pabrik yang maju.
 
Hal ini, sambungnya, juga membutuhkan ekosistem teknologi yang memadai untuk menunjang keberlanjutan usaha.
 
Berbeda dengan Thailand, yang juga disebutnya sebagai pasar investasi untuk manufaktur yang besar, pabrik-pabrik di Vietnam sedang dalam tahap meningkatkan teknologi. Dengan demikian, tidak hanya penggunaan teknologi untuk efisiensi biaya produksi tapi juga untuk meningkatkan kualitas serta fasilitas produk. 

Head of ASEAN/ANZ Cognex Wayne Goh menerangkan ekspansi kantor perusahaan di Singapura sejalan dengan rencana perusahaan untuk berkoordinasi dan konsolidasi lebih jauh dalam upaya untuk memanfaatkan potensi besar industri manufaktur di Asean.
 
Perusahaan juga menaruh harapan besar bagi dorongan ekonomi kawasan ini menuju pencapaian Industri 4.0 dengan mentransformasikan pabrik tradisional menjadi operasi manufaktur yang cerdas, mudah beradaptasi, dan hemat biaya dengan menanamkan teknologi, kemampuan kecerdasan buatan, serta kemampuan robotik yang canggih untuk otomasi pabrik.
 
“Kami optimistis Industri 4.0 dapat mengubah cara perusahaan dalam mendukung dan meningkatkan proses manufaktur. Kami sudah banyak melakukanya jauh sebelum perusahaan lainnya. Selanjutnya, kami tetap mempelajari bagaimana keseluruhan industri ini berjalan,” lanjutnya.
 
Ekspansi di Singapura dilakukan setelah Cognex membuka kantor lokal mereka di Vietnam pada 2017.
 
Pasar-pasar berkembang yang tersebar di Asean disebut mengalami kenaikan permintaan pada aktivitas manufaktur, yang juga berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang stabil. Menurut manufacturing production index yang disusun Japan Center of Economic Research, akan ada perkembangan 6,2% secara year-on-year (yoy) untuk pasar-pasar utama di Asia Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top