Urgensi Penerapan Industri 4.0 Luput Pembahasan Capres

Pembahasan industri 4.0 pada debat kedua calon presiden lalu dinilai melewatkan pembahasan substansial mengenai urgensi penerapan industri 4.0 di Indonesia.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 19 Februari 2019  |  14:15 WIB
Urgensi Penerapan Industri 4.0 Luput Pembahasan Capres
Capres nomor urut 01 Joko Widodo (kiri) dan Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto (kanan) disaksikan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran kedua di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Pembahasan industri 4.0 pada debat kedua calon presiden lalu dinilai melewatkan pembahasan substansial mengenai urgensi penerapan industri 4.0 di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal kepada Bisnis, Selasa (19/02/2019). Dia menilai kedua pasang calon presiden (capres) tidak menyampaikan urgensi penerapan industri 4.0, khususnya di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan seperti yang ditanyakan moderator.

Faisal menjelaskan saat ini Indonesia masih dihadapkan pada tantangan mendasar industri, seperti permasalahan biaya energi, biaya logistik yang kurang efisien, dan hal lain yang memengaruhi biaya produksi. Untuk masuk ke industri 4.0, ujarnya, Indonesia perlu menyelesaikan permasalahan dasar pada industri 2.0 dan 3.0 yang ada saat ini.

"Industri 4.0 itu sebetulnya jargon yang tidak lantas harus diimplementasikan kalau prekondisinya belum memenuhi," ujar Faisal kepada Bisnis.

Kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur menurutnya perlu diperhatikan sebelum menerapkan industri 4.0. Selain itu, perlu ditentukan pula sektor mana yang cenderung siap dan tepat untuk masuk ke industri 4.0.

Faisal menilai tiga sektor industri yang ditanyakan moderator merupakan sektor industri yang masih belum menggunakan banyak otomasi. Sektor-sektor padat karya tersebut menurutnya patut dipertanyakan urgensinya dalam menerapkan industri 4.0.

Adapun, menurutnya penerapan 4.0 dapat dilakukan pada sub sektor dari ketiga sektor di atas, tetapi perlu ditentukan sub sektor mana yang akan menjadi pilot project.

"[Kedua capres] harusnya memilih sub sektor mana yang mau dirobotisasi, apakah industri pengalengan atau yang mana, atau sebetulnya belum ada karena semuanya masih betul-betul padat karya? Itu kan tergantung dari jawaban masing-masing capres. Kalau menurut mereka belum waktunya [masuk ke industri 4.0], jelaskan," ujar Faisal.

Dalam debat yang diselenggarakan Minggu (17/02/2019), capres Joko Widodo menjelaskan pengembangan SDM dan infrastruktur digital, serta pemanfaatan platform digital dapat mendorong Indonesia memasuki industri 4.0. Dia pun menjabarkan fintech sebagai solusi bagi petani untuk mendorong penjualan hasil panennya.

Sedangkan capres Prabowo Subianto menjelaskan perkembangan industri 4.0 berpotensi mengurangi serapan tenaga kerja seiring penggunaan robot dan otomasi. Dia pun menjelaskan saat ini belum ada jaminan harga pangan dapat terjangkau oleh masyarakat dan perlu adanya pemenuhan kebutuhan pangan dari dalam negeri.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Revolusi Industri 4.0

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top