INDEF Ingatkan Capres Tentang Pekerjaan Rumah Sektor Energi

Sejumlah pekerjaan rumah dan agenda besar ke depan terkait sektor energi perlu menjadi fokus Joko Widodo dan Prabowo Subianto menuju Debat Capres Jilid II, Minggu (17/2/2018).
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 14 Februari 2019  |  18:05 WIB
INDEF Ingatkan Capres Tentang Pekerjaan Rumah Sektor Energi
Ilustrasi pengeboran minyak - Reuters/Ernest Scheyder

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah pekerjaan rumah dan agenda besar ke depan terkait sektor energi perlu menjadi fokus Joko Widodo dan Prabowo Subianto menuju Debat Capres Jilid II, Minggu (17/2/2018).

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Barly Martawardaya mengatakan pada dasarnya di sektor energi khususnya minyak dan gas, ada masalah menahun yang belum terselesaikan.

Sebagai negara net importir minyak sejak 2002, terbukti era Jokowi - Jusuf Kalla upaya memangkas defisit neraca migas belum berhasil. Menurutnya, lifting migas mengalami kemerosotan sekitar 30% sejak 2014. Sementara itu, untuk investasi migas yang dibuktikan dengan eksplorasi belum membaik sejak 2013.

"Akhirnya tidak bisa dipisahkan defisit migas memengaruhi stabilitas makro," katanya dalam Konferensi Pers “Pemanasan Debat Capres Kedua: Tawaran INDEF untuk Agenda Strategis Pembangunan SDA dan Infrastruktur,” Kamis (14/2/2019).

Pada survey PWC 2016, terlihat Indonesia memerlukan peningkata kepastian kebijakan sektor energi. Belum lagi, dalam survei tersebut, lanjut Barly, terlihat adanya inkonsistensi kebijakan antara Kementerian Keuangan, Kementerian ESDM dan Kementerian Perindustrian.

Dia menambahkan, salah satu bukti nyata bahwa dasar hukum sektor migas rendah adalah tidak kunjung selesainya pembahasan RUU Migas.

Selain itu, tantangan mendorong bauran energi juga menjadi pekerjaan rumah. Barly menyebut, dengan pertumbuhan populasi kendaraan bermotor yang tiap tahunnya tumbuh eksponansial, berdampak pada konsumsi energi. Misalnya, dengan pertumbuhan populasi kendaraan bermotor 10%, maka pertumbuhan konsumsi energi bisa mencapai 15%.

Di sisi lain, upaya pemerintah menghadirkan insentif dan kebijakan kendaraan listrik juga masih dipertanyakan. Dengan belum adanya industrialisasi kendaraan listrik, energi berbasis fosil masih menjadi andalan.

Dalam Outlook Energi BPPT 2018, tren pertumbuhan konsumsi energi akan didorong oleh sektor industri dan transportasi.

Pada kesempatan yang sama, Ekonom Senior INDEF Faisal Basri mengatakan dua pasangan capres dan cawapres harus mampu menunjukkan visi industri yang matang untuk membawa perubahan dalam sektor energi nasional.

Pasalnya, selama ini kebijakan energi nasional condong lebih mengutamakan produksi daripada mencari cadangan baru. Berbeda dengan negara-negara tetangga yang jumlah cadangan migas dari tahun ke tahun terlihat flat, sementara Indonesia mengalami kemerosotan.

"Buktinya SDA jadi bumper makro ekonomi nasional. Harusnya tidak boleh kita begini, SDA harusnya diperlakukan sebagai dijadikan pembangunan nasional," ujarnya

Faisal mengutip data BP Stastictical of World Energy 2017, dengan cadangan batu bara sebesar 2,2% dunia, Indonesia memproduksi sebanyak 7,2% dari total produksi dunia dan mengekspor sebesar 16,1% dari total nilai ekspor batu bara dunia.

Dia mengatakan ekspor batu bara dijadikan untik mendulang devisa, sementara berbeda dengan negara lainnya yang memprioritaskan produksi untuk dalam negeri.

Misalnya saja, Amerika Serikat yang memiliki cadangan batu bara dengan persentase 22% dari seluruh dunia, Negeri Paman Sam memproduksi batu bara sebesar 9,9% dari total produksi dunia. Sementara itu, kontribusi volume ekspor batu bara Amerika hanya sebesar 8,9% dari seluruh dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top