Pengembangan Sektor Manufaktur Jadi Prioritas

Investasi sektor manufaktur bakal digenjot pada tahun ini untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memprioritaskan peningkatan investasi sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil serta sektor prioritas lain dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 13 Februari 2019  |  20:57 WIB
Pengembangan Sektor Manufaktur Jadi Prioritas
Ilustrasi kegiatan di pabrik tekstil - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Investasi sektor manufaktur bakal digenjot pada tahun ini untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan memprioritaskan peningkatan investasi sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil serta sektor prioritas lain dalam peta jalan Making Indonesia 4.0.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan untuk meningkatkan investasi di sektor manufaktur, pemerintah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Langkah tersebut di antaranya dilakukan melalui pemberian insentif fiskal, penerapan online single submission (OSS), dan kemudahan perizinan usaha. Selain itu, Airlangga pun menilai perlu dilakukan penurunan suku bunga, perbaikan sistem logistik, dan penyederhanaan prosedur ekspor.

"Yang juga penting, yakni menjaga ketersediaan bahan baku serta pasokan energi dengan harga yang kompetitif, seperti gas dan listrik untuk industri. Hal ini tentu mendukung keberlangsungan terhadap aktivitas industrialisasi," ujar Airlangga, Rabu (13/2/2019) dalam keterangan resmi.

Pada tahun ini, salah satu program prioritas Kemenperin adalah peningkatan investasi di sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil. Meskipun begitu, Airlangga menilai investasi pada lima sektor unggulan Making Indonesia 4.0 juga perlu dipacu.

Sebanyak lima sektor unggulan tersebut adalah industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronika. Sektor tersebut dipilih berdasarkan besarnya multiplier effect dan kontribusinya terhadap PDB.

"Namun, sektor lain juga dipacu seperti industri pulp dan kertas serta baja," kata Airlangga.

Peningkatan investasi tersebut menurut Airlangga penting untuk perkuat struktur perekonomian Indonesia. Masuknya investasi akan mendorong kebijakan hilirisasi industri yang bisa memberikan efek berantai yang luas bagi perekonomian.

Selain itu, hilirisasi pun dinilai dapat mendorong peningkatan nilai tambah dari bahan baku, serapan tenaga kerja, serta penerimaan devisa dari ekspor dan pajak.

"Makannya, diperlukan investasi baru ataupun ekspansi dari industri eksisting untuk melengapi rantai nilai di industri manufaktur nasional," ujar Airlangga.

Berdasarkan data Kemenperin, realisasi total nilai investasi di sektor manufaktur pada 2018 mencapai Rp222,3 triliun. Penopang utama dari nilai tersebut adalah industri logam, mesin dan elektronik, dan industri instrumen kedokteran, presisi, optik dan jam dengan nilai sebesar Rp60,12 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
manufaktur

Editor : Galih Kurniawan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top