Formula Baru Harga BBM, Pertamina Segera Turunkan Harga Avtur

Presiden Joko Widodo terusik dengan keluhan pengusaha hotel terkait tingginya harga tiket pesawat yang salah satunya disebabkan oleh harga avtur.
David Eka Issetiabudi | 12 Februari 2019 12:38 WIB
Penumpang pesawat udara berjalan menuju terminal kedatangan saat tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, Senin (14/1/2019)./ANTARA FOTO - Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo terusik dengan keluhan pengusaha hotel terkait tingginya harga tiket pesawat yang salah satunya disebabkan oleh harga avtur.

Presiden pun berencana memanggil Direktur Utama Pertamina terkait tingginya harga Avtur, mengingat saat ini, hanya perusahaan pelat merah itu yang menjual BBM tersebut di Tanah Air.

Tetapi, bagaimana harga Avtur berdampak signifikan terhadap komponen biaya maskapai? Berikut penjelasannya. Berdasarkan data Pertamina, komponen BBM yang masuk dalam biaya langsung tetap, mempunyai porsi 24% dalam struktur biaya.

Avtur menjadi komponen biaya terbesar di atas pemeliharaan sebesar 19% dan biaya sewa pesawat 16%. Sekretaris Jenderal INACA Tengku Burhanuddin pun mengamininya. Bahkan, menurutnya, biaya BBM dan pelumas berkontribusi sekitar 35% - 40% dalam struktur biaya operasi pesawat.

“Biaya fuel dan pelumas sekitar 35% - 40%,” katanya.

Dihubungi terpisah, Menteri ESDM Ignasius Jonan enggan berkomentar terkait belum diturunkannya harga Avtur oleh Pertamina. Dia hanya menegaskan bahwa formula baru untuk penyesuaian BBM dan Avtur sudah diterbitkan.

“Kementerian ESDM sudah menerbitkan formula bagi penyalur avtur untuk menetapkan harga jual BBM tersebut,” katanya lewat pesan singkat kepada Bisnis, Selasa (12/2/2019).

Sementara itu, Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan segera memanggil Pertamina terkait penyesuaian harga avtur.

“Segera kami panggil,” ujarnya singkat.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan pemerintah telah merilis formula harga BBM dan avtur melalui Kepmen No. ESDM Nomor 17 K/10/MEM/2019. Beleid tersebut menetapkan adanya batas atas dengan margin sebesar 10% dari harga dasar.

"Berdasarkan regulasi tersebut, kemarin Pertamina menurunkan harga BBM dan penurunan harga avtur akan dirilis dalam waktu dekat," katanya.

Nicke menjelaskan pihaknya sedang melakukan simulasi harga avtur berdasarkan formula baru tersebut. Dia memastikan Pertamina akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah.

Pertamina sendiri mengklaim bahwa periode Desember 2019 – Februari 2019 adalah salah satu peak season dalam pasar domestic. Dengan bergerak dari proyeksi penjualan, Pertamina meningkatkan nilai kompetitif dengan menurunkan harga jual.

Hingga Januari periode II 2019, harga jual avtur mengalami trend turun hingga 18,5% bila dibandingkan dengan November periode II 2018.

Dari data yang dihimpun Bisnis, pada periode November 2018 tingkat daya saing harga avtur di Bandara Internasional Soekarno Hatta memang masih lebih tinggi dibandingkan dengan Singapura (SIN Changi), Kuala Lumpur (KUL KLIA), Hongkong (HKG HKIA), Thailand (BKK Suvarnabhumi), Korea Selatan (ICN Icheon) ataupun Belanda (AMS Schippol).

Berikut Perbandingannya

Bandara                               Harga Kontrak   dalam % MOPS

SIN Changi                          102,1

KUL KLIA                              103,5

HKG HKIA                            103,8

BKK Suvarnabhumi          105,2

DMK Don Meuang           106,3

ICN Icheon                          107,1

AMS Schippol                    107,1

CKG Soekarno Hatta       107,7

PEN Penang                       110

JED King Abdul Aziz         112,1

PEK Beiing                           117,6

CAN GuangZhou              117,8

MED Medina                      121,1

Tag : tiket pesawat
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top