Riau Berharap Tuah dari Pabrik Hilirisasi Batu Bara

Pemerintah Provinsi Riau berharap tuah dari pembangunan pabrik hilirisasi batu bara yang dilakukan PT Bukit Asam Tbk., PT Pertamina (Persero), dan Air Products and Chemical Inc. di Peranap, Indragiri Hulu.
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  18:09 WIB
Riau Berharap Tuah dari Pabrik Hilirisasi Batu Bara
Aktivitas penambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk di Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, PEKANBARU—Pemerintah Provinsi Riau berharap tuah dari pembangunan pabrik hilirisasi batu bara yang dilakukan PT Bukit Asam Tbk., PT Pertamina (Persero), dan Air Products and Chemical Inc. di Peranap, Indragiri Hulu.

Ahmad Hijazi, Sekretaris Daerah Riau, mengatakan Provinsi Riau telah lama menjadi provinsi yang memberikan kontribusi besar terhadap sektor minyak dan gas bumi (migas) nasional. Pengembangan tambang batu bara di Peranap pun diharapkan memberikan multiplier effect terhadap perekonomian wilayahnya.

“Kami berharap proyek ini dapat menciptakan lapangan kerja baru yang menyerap tenaga kerja di wilayah sekitar dan memberikan multiplier effect yang positif terhadap perekonomian Riau,” katanya, Senin (11/2/2019).

Hijazi menyebutkan hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) juga harus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Riau. Pasalnya, DME digadang-gadang sebagai pengganti liquefied petroleum gas (LPG) dengan harga lebih murah, efisien, dan ramah lingkungan.

Seperti diketahui, hingga kini sebagian besar LPG yang didistribukan di dalam negeri berasal dari impor karena sebagian besar gas yang dihasilkan tidak cocok untuk diolah menjadi LPG.

Menurutnya, pembangunan pabrik hilirisasi batu bara akan membangkitkan kembali kegiatan perekonomian tersebut karena selama ini kurang optimal akibat kandungan kalorinya yang rendah.

Dodi Arsadian, Pimpinan Pengembangan Gasifikasi Batu Bara Peranap PT Bukit Asam Tbk., mengatakan setidaknya ada 600 juta ton batu bara yang siap diolah menjadi DME di tambang peranap. Pabrik itu sendiri akan memproduksi sekitar 1,4 juta ton DME per tahun dengan kebutuhan batu bara sekitar 9 juta ton per tahun.

“Kami mendapatkan izin tambang seluas 18.000 hektare di Peranap dengan prediksi kandungan batu bara 600 juta ton,” katanya.

Dia juga menyebut lokasi tambang Peranap yang cukup strategis karena dekat dengan sungai besar yang dapat dimanfaatkan sebagai jalur transportasi. Lokasi tambang yang jauh dari pemukiman juga sangat cocok untuk mendirikan pabrik hilirisasi.

Seperti diketahui, pabrik hilirisasi batu bara di Peranap dibangun bersama PT Bukit Asam Tbk. dan Pertamina, serta Air Products. Ketiganya telah menandatangani pembentukan anak usaha bersama yang nantinya akan mengelola pabrik tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara, ptba, hilirisasi minerba

Editor : Lili Sunardi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top