Kemenpar Tekankan Pentingnya Branding dan Selling

Kementerian Pariwisata menekankan pentingnya branding dan selling dalam menggaet wisatawan mancanegara. 
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 11 Februari 2019  |  16:09 WIB
Kemenpar Tekankan Pentingnya Branding dan Selling
Menteri Pariwisata Arief Yahya (kiri) didampingi Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani (kanan) berjalan bersama untuk menghadiri pembukaan Rapat Kerja Nasional IV PHRI, di Jakarta, Senin (11/2/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Pariwisata menekankan pentingnya branding dan selling dalam menggaet wisatawan mancanegara. 

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan banyak penghargaan yang diterima Indonesja akibat adanya branding. Program branding yang bertujuan sebagai long term investment dimana hasilnya baru dapat dipetik tiga hingga lima tahun mendatang. 

"Branding dan selling ini sangat penting dalam peningkatan wisatawan. Branding yang baik ini berdampak pada saat ini dan akan datang," ujarnya dalam Rakernas PHRI 2019, Senin (11/2/2019). 

Kemenpar sendiri telah gencar dalam melakukan branding. Di tahun lalu sendiri terdapat 15,8 juta wisman dan 270 juta wisnus yang berplesir di Tanah Air. 

"Meski wismannya hampir tercapai. Cuman devisa Indonesia dari wisman tercapai," katanya. 

Pada tahun ini sendiri, lanjutnya, pihaknya berencana akan meningkatkan regulasi dan teknologi yang menjasi dua hal yang sangat strategis. 

"Kami enggak akan tumbuh besar kalau enggak nyentuh strategis," ucapnya. 

Kemenpar, lanjutnya, memiliki program  10 destinasi Bali badu dimana di Danau Toba sebagai salah satu destinasinya tersapat 8 kabupaten yang pendapatan asli daerahnya (PAD) naik sebesar 79%. 

"Apa yang kami lakukan sudah langsung dirasakan masyarakat," katanya. 

Hingga kini, investasi pariwisata mencapai US$2 miliar dimana nomer 1 yang paling besar yakni akomodasi, lalu restoran, dan atraksi lainnya. 

"Adapun untuk lokasi penanaman modal asing paling besar pertama di Bali, lalu Jakarta dan Kepulauan Riau hal itu seiring jumlah wisman yang datang ke Bali 40%, Jakarta 30% dan Kepri 20%. Investasi paling banyak dari Singapura. Untuk wisnus paling banyak pergerakan di Jabar, Jateng dan Jatim dan investasi tinggi di Jawa," tutur Arief.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
phri

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top