Garuda Beralasan Margin Keuntungan Jasa Kurir Terlalu Gede

Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mengungkapkan biaya pokok penerbangan kargo udara ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan tarif kargo udara atau surat muatan udara (SMU) yang diterapkan perusahaan jasa pengiriman.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  06:05 WIB
Garuda Beralasan Margin Keuntungan Jasa Kurir Terlalu Gede
Direktur Utama terpilih PT Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra (Ari Askhara) memberikan paparan dalam konferensi pers usai RUPSLB Garuda Indonesia, di Tangerang, Banten, Rabu (12/9/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA -- Maskapai penerbangan Garuda Indonesia mengungkapkan biaya pokok penerbangan kargo udara ternyata jauh lebih rendah dibandingkan dengan tarif kargo udara atau surat muatan udara (SMU) yang diterapkan perusahaan jasa pengiriman.

Direktur Utama Garuda Indonesia Group IGN Askhara Danadiputra mengatakan biaya pokok kargo udara antara Rp6.000 per kilogram hingga Rp10.000 per kilogram untuk satu jam penerbangan. Tarif tersebut bervariasi bergantung lokasi bandara yang dituju.

Sementara itu, selama ini agen/forwarder anggota Asperindo menjual jasa pengiriman via udara sebesar Rp15.000 per kilogram--18.000 per kilogram untuk setiap jam penerbangan. Apabila dibandingkan dengan tarif kargo udara, mereka telah banyak menikmati keuntungan di atas kerugian maskapai.

"Dengan penaikan tarif kargo udara saat ini, seharusnya hanya mengurangi sedikit keuntungan anggota Asperindo. Dengan margin yang cukup besar, mereka tidak akan mengalami kerugian," kata kata pria yang akrab disapa Ari Askhara, Rabu (6/2/2019).

Sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo) mengeluhkan kenaikan tarif kargo udara hingga 300% sejak Juni 2018 hingga Januari 2019.

Ketua Umum Asperindo yang juga Dirut PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Mohamad Feriadi menuturkan kenaikan tarif jasa kurir dalam rentang akhir tahun lalu dan awal tahun ini tetap belum dapat mengompensasi kenaikan tarif SMU yang dilakukan maskapai penerbangan.

"Biasanya per semester [kenaikannya], pola dulu seperti begitu, tapi sejak Juni 2018 naik 6 kali." terangnya, Rabu (6/2/2019).

Dia menjelaskan maskapai yang digunakan perusahaannya sudah menaikkan tarif SMU sebanyak 6 kali dengan perincian kenaikan pertama pada Juni 2018, dilanjutkan pada Oktober 2018 sebanyak dua kali kenaikan. Selanjutnya, tarif SMU kembali naik pada November 2018 dan Januari 2019.

"Persentase kenaikkan total mencapai lebih dari 300%. Makanya tinggi sekali," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top