Hubungan Dagang dengan Filipina Memanas, RI Pilih 'Mengalah'

Indonesia menindaklanjuti ancaman restriksi dagang dari Filipina dengan berjanji membuka keran impor yang lebih besar untuk produk hortikultura dari negara beribu kota Manila itu.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  17:14 WIB
Hubungan Dagang dengan Filipina Memanas, RI Pilih 'Mengalah'
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memegang uang peso Filipina untuk pengungsi Marawi saat berkunjung ke pusat Iligan City National School of Fisheries di Iligan City, Filipina pada tanggal 20 Juni 2017. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia menindaklanjuti ancaman restriksi dagang dari Filipina dengan berjanji membuka keran impor yang lebih besar untuk produk hortikultura dari negara beribu kota Manila itu.

Pemerintah Filipina sebelumnya merasa keberatan dengan kebijakan Indonesia terkait dengan pembatasan impor bawang merah, dan regulasi-regulasi kesehatan yang dianggap menghambat penjualan tembakau Filipina di pasar Nusantara.

Sebagai balasan, negara pimpinan Presiden Rodrigo Duterte itu berencana meretaliasi dengan menerapkan special safeguards (SSG) terhadap produk kopi instan dan tarif masuk serta pembatasan impor crude palm oil/CPO dari Indonesia. 

Direktur Pengamanan Perdagangan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Pradnyawati menjelaskan, Indonesia memang mengalami kerugian akibat pengenaan SSG tersebut, yaitu sekitar Rp225 miliar sejak Agustus 2018.

Namun, lanjutnya, Indonesia masih meraup surplus sekitar US$7 miliar dalam neraca perdagangan bilateral dengan Filipina pada 2018.

“[Untuk itu], saya mendapat arahan untuk lebih ‘menghibur’ mereka [Filipina], sehingga ketimpangan neraca perdagangan itu menipis. Namun, dengan catatan, kita [Indonesia] juga tetap minta mereka mencabut SSG terhadap produk kopi instan kita,” katanya, Rabu (6/2/2019).

Lebih lanjut, Pradnyawati mengungkapkan, saat ini otoritas perdagangan tengah mengidentifikasi beberapa jenis produk hortikultura Filipina yang dapat ditingkatkan impornya oleh Indonesia. Misalnya, pisang cavendish dan bawang bombay.

“Mereka menawarkan produk-produk itu untuk ditingkatkan [impornya oleh Indonesia], dan mereka memang bagus dalam produk pertanian tersebut.”

Presiden Direktur Mayora Group Andre Atmadja mengatakan, perusahaan mengapresiasi respons cepat pemerintah dalam membantu pengusaha dalam kasus ketegangan perdagangan bilateral dengan Filipina. Dia berharap proses perundingan dengan Filipina berjalan lancar, karena perusahaan produsen kopi kemasan Torabika itu membukukan ekspor senilai US$600 juta ke Filipina pada tahun lalu.

Andre mengatakan, Mayora Group juga memahami kebutuhan Filipina untuk meningkatkan kinerja ekonominya dengan memperkuat sektor perdagangan. Oleh karena itu, perseroan berkomitmen untuk mendirikan pabrik di Filipina.

“Saat ini kami sedang melakukan survei, mencari lokasi yang baik untuk pabrik kami di Filipina. Proses investasinya sudah berjalan” katanya.

Selain itu, perusahaan menyanggupi untuk mengimpor minyak kelapa dari Filipina sebagai bahan baku produksi. Sayangnya, Andre belum menyebutkan kapan dan berapa volume impor minyak kelapa tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar (Aseibssindo) Hendra Juwono menuturkan, pemerintah harus berhati-hati dalam membuka akses komoditas hortikultura dari Filipina.

Pasalnya, Indonesia memiliki produksi pisang cavendish yang juga cukup besar untuk kebutuhan domestik. “Produksi kita cukup besar, bahkan kita termasuk produsen terbesar nomor lima untuk komoditas itu. Bahkan, kita juga ekspor, pisang itu.”

Namun, dia berpendapat pemerintah bisa mempertimbangkan untuk mengimpor bawang bombay dari Filipina, karena Indonesia memang tidak memproduksi komoditas tersebut.

Senada, Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono juga berpendapat pemerintah jangan serta-merta menyanggupi desakan untuk membuka keran impor produk Filipina.

“Ini rupiah kita lagi bagus-bagusnya. Jadi, harus tetap dicarikan solusi untuk tidak membuat nilai tukar rupiah kita bergejolak.”

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal pun berpendapat, Indonesia harus ekstra hati-hati dalam membuka akses produk Filipina.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
filipina

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top