GAPKI: Tahun Lalu Industri Sawit Hadapi Banyak Tantangan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyimpulkan 2018 sebagai periode yang menantang dari segi hulu dan hilir bagi industri kelapa sawit nasional.
Pandu Gumilar | 06 Februari 2019 20:51 WIB
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono (kiri) didampingi Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia Derom Bangun memberikan penjelasan mengenai refleksi industri kelapa sawit 2018 dan prospek 2019. di Jakarta, Rabu (6/2/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyimpulkan 2018 sebagai periode yang menantang dari segi hulu dan hilir bagi industri kelapa sawit nasional.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan secara keseluruhan industri kelapa sawit mengalami peningkatan dari segi produksi serta ekspor, akan tetapi terjadi penurunan dari segi nilai penjualan dan sumbangan devisa.

"Kinerja sawit pada 2018 itu bisa dianalogikan sawit ku sayang, sawit ku tertantang. Susah ya memang tapi sebenarnya masih oke juga. Dilihat dari produksi, hasil hitungan ada peningkatan signifikan dibandingkan dengan 2017 [yakni] sebesar 13%," katanya, pada Rabu (6/2/2019).

Joko mengatakan dari segi produksi, industri kelapa sawit nasional membukukan angka 47,44 juta ton sepanjang 2018. Angka tersebut mencakup crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO). Adapun, khusus untuk produksi CPO tahun lalu tercatat sebanyak 43 juta ton, naik 12,5% daripada 2017.


Menurut Joko, berkaca pada tahun lalu, industri sawit itu sangat tidak menentu. Pasalnya ada sejumlah tantangan yang dihadapi para pelaku usaha baik dari dalam dan luar negeri.

Pria berkulit matang itu mencatat ada lima hal yang digarisbawahi para pengusaha. Pertama, masih ada ancaman ketidakpastian hukum dalam perkembangan industri sawit antara lain karena regulasi yang kurang berpihak maupun yang saling tumpang tindih.

Poin kedua ialah kondisi pasar global yang tidak menentu akibat perang dagang. Ketiga, hambatan perdagangan di sejumlah kawasan tujuan ekspor seperti Uni Eropa dan India. Keempat, tekanan kampanye negatif yang makin masif. Kelima, penguatan pasar domestik dan implementasi kebijakan biodiesel yang belum memuaskan.

"Penguatan pasar domestik memang ada kenaikan tapi perlu ada banyak yang perlu ditingkatkan melalui serapan biodiesel," katanya.

Penyerapan biodiesel dalam negeri melalui program mandatori B20 mencapai 3,8 juta ton atau naik 72% dibandingkan dengan 2017 yang hanya 2,2 juta ton. Alhasil serapan dalam negeri mencapai 13,4 juta ton yang menjadikan Indonesia sebagai negara produsen dan konsumen tertinggi di dunia melewati India.

Selain itu, kendati kinerja hulu dan serapan dalam negeri membaik, sumbangan sawit terhadap devisa, lanjut Joko, menyusut karena harga rata-rata CPO pada 2018 US$595,5 per metrik ton menurun daripada 2017 yang reratanya US$714,3 per metrik ton.

"Ekspor meningkat secara volume tapi turun dari segi harga, karena harga dunia turun setahun. Nilai sumbangan devisa minyak sawit 2018 mencapai US$20,54 milliar turun 11% dibandingkan dengan 2017 yang sampai US$22,97 milliar" katanya.

Oleh sebab itu Joko mengusulkan agar Indonesia segera mendiversifikasi pasar dan tidak tergantung pasar besar saja. Pasalnya, pasar tradisional seperti India dan Uni Eropa belum menunjukkan tanda-tanda melonggarkan pasarnya untuk dimasuki minyak sawit Indonesia.

Tag : kelapa sawit
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top