Dua Hal Picu Perlambatan Jumlah Penumpang Pesawat

Pengamat penerbangan menilai perlambatan pertumbuhan jumlah penumpang penerbangan yang kemungkinan terjadi pada 2018 sebagai akibat dari penaikan harga tiket dan operasional jalan Tol Trans Jawa.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  04:59 WIB
Dua Hal Picu Perlambatan Jumlah Penumpang Pesawat
Ilustrasi-Calon penumpang pesawat udara antre - ANTARA FOTO/Septianda Perdana

Bisnis.com, JAKARTA--Pengamat penerbangan menilai perlambatan pertumbuhan jumlah penumpang penerbangan yang kemungkinan terjadi pada 2018 sebagai akibat dari penaikan harga tiket dan operasional jalan Tol Trans Jawa.

Sekretaris Jaringan Penerbangan Indonesia Gerry Soedjatman mengatakan penaikan harga tiket yang sudah dilakukan oleh maskapai nasional sejak Oktober 2018 memicu penurunan permintaan. Apalagi, penumpang penerbangan yang didominasi dari maskapai berbiaya rendah (low cost carrier/LCC) sangat sensitif terhadap perubahan harga.

"Adanya tol Trans Jawa dan penaikan harga tiket pesawat berpenharuh terhadap permintaan. Ini yang menyebabkan terjadi penurunan," kata Gerry, Selasa (5/2/2019).

Dia menambahkan imbas operasional jalan tol yang menghubungkan Merak hingga Pasuruan sepanjang 933 kilometer ini sangat berpengaruh karena sebagian besar penumpang penerbangan berasal dan intra Jawa. Menurutnya, kontribusi penumpang penerbangan dari Pulau Jawa bisa mencapai 50% dari pangsa pasar domestik, khususnya perjalanan rombongan dan wisata.


Pihaknya menuturkan tekanan sektor penerbangan juga terjadi akibat fluktuasi nilai kurs dollar dan kenaikan harga avtur. Hal tersebut mengakibatkan maskapai menaikkan harga tiket agar tidak terjadi pembengkakan biaya operasional.


Menurutnya, kondisi ini terjadi mirip dengan 2014. Saat itu juga terjadi fluktuasi nilai kurs dan kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah menaikkan tarif batas atas dan kondisi permintaan dan daya beli masyarakat juga sedang lesu, sehingga mengakibatkan perlambatan.


"Saat ini penumpang banyak didominasi oleh kalangan price sensitive dan yang tidak time sensitive, sehingga dimungkinkan terjadi perpindahan ke moda transportasi dengan harga yang lebih terjangkau. Pihak maskapai seharusnya sadar bahwa konsumen mereka cenderung elastic demand," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
penumpang udara

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top