Belanja Modal (Capex) 2019 Pertamina US$4,2 Miliar

PT Pertamina (Persero) mengalokasikan belanja modal untuk sektor hulu minyak dan gas bumi pada tahun ini sebesar US$2,5 miliar atau 60% dari total US$4,2 miliar.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 06 Februari 2019  |  09:28 WIB
Belanja Modal (Capex) 2019 Pertamina US$4,2 Miliar
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati (kiri) berbincang dengan Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto sebelum rapat terbatas tentang Minyak dan Gas Bumi, di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) mengalokasikan belanja modal untuk sektor hulu minyak dan gas bumi pada tahun ini sebesar US$2,5 miliar atau 60% dari total US$4,2 miliar.

Sekitar 40% belanja modal akan digunakan untuk sektor pengolahan (pengembangan kilang minyak) dan sektor hilir minyak dan gas bumi (migas) pada 2019.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menuturkan bahwa 60% atau US$2,5 miliar dari total belanja modal tersebut akan dialokasikan untuk sektor hulu minyak dan gas bumi. Sektor hulu migas itu mencakup kegiatan produksi dan eksplorasi, terutama pengeboran sumur migas.

“Porsi [belanja modal] sektor hulu migas sebesar 60%. Sebagian besar untuk kegiatan pengeboran [sumur migas] guna meningkatkan produksi [minyak dan gas bumi],” kata Nicke saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (4/2).

Alokasi belana modal Pertamina tersebut turun dibandingkan dengan proyek awal perseroan pada Desember 2018 sebesar US$5,5 miliar. Penurunan alokasi belanja modal itu disebabkan oleh sebagian belanja modal di anak usaha Pertamina dilakukan dengan perusahaan lain yang menjadi mitra perseroan.

Dia menambahkan, selain untuk hulu migas, belanja modal itu juga untuk pengembangan kilang minyak, seperti revitalisasi Kilang Balikpapan dan pembangunan kilang baru di Tuban, Jawa Timur.

Pemerintah meminta Pertamina untuk merevitalisasi lima kilang minyak yang sudah ada dan pembangunan dua kilang baru, yaitu Kilang Bontang dan Tuban.

Mantan Direktur Perencanaan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) itu menjelaskan bahwa masih ada kendala dalam pembangunan Kilang Tuban, yaitu dalam pengadaan lahan karena masih ada lahan milik warga.

“Masih ada lahan warga, ada lahan pemerintah. Solusinya kami komunikasikan dengan warga setempat. Ini [pembangunan Kilang Tuban] untuk meningkatkan ekonomi daerah juga, yaitu menciptakan lapangan pekerjaan.”

Proyek revitalisasi kilang yang sudah mencapai progres paling maju adalah Kilang Balikpapan.

Pertamina telah menunjuk konsorsium SK Engineering & Construction Co. Ltd., Hyundai Engineering Co. Ltd., PT Rekayasa Industri, dan PT PP (Persero) Tbk. sebagai pemenang tender perekayasa desain, pengadaan, dan konstruksi Kilang Balikpapan senilai US$4 miliar atau sekitar Rp57,8 triliun. Lelang pengerjaan perekayasa desain, pengadaan, dan konstruksi digelar pada 15 Maret–26 November 2018. Namun, Pertamina menargetkan penyelesaian revitalisasi Kilang Balikpapan pada 2023 mundur dari target awal 2021.

Revitalisasi Kilang Balikpapan tersebut akan meningkatkan kapasitas dari 260.000 barel per hari (bph) menjadi 360 bph.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertamina

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top