Bea Impor 25 Persen AS untuk China akan Picu Perang Mata Uang, Devaluasi, Stagflasi

Rencana Amerika Serikat mematok tarif bea masuk 10 persen hingga 25 persen terhadap produk China mulai Maret 2019 dikhawatirkan menimbulan goncangan ekonomi global, karean picu perang mata uang, devaluasi, dan stagflasi.
Newswire | 05 Februari 2019 10:53 WIB
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana Amerika Serikat mematok tarif bea masuk 10 persen hingga 25 persen terhadap produk China mulai Maret 2019 dikhawatirkan menimbulan goncangan ekonomi global, karean picu perang mata uang, devaluasi, dan stagflasi.

Sebuah rencana Amerika Serikat untuk menaikkan tarif pada China bulan depan dapat memicu kemerosotan ekonomi dan membiarkan negara-negara lain mengambil alih sekitar 200 miliar dolar AS ekspor China. Demikian kesimpulan sebuah studi oleh badan perdagangan dan pembangunan PBB, UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development), yang dilansir Senin (4/2/2019).

"Akan ada perang mata uang dan devaluasi, stagflasi yang mengarah pada kehilangan pekerjaan dan pengangguran yang lebih tinggi dan yang lebih penting, kemungkinan efek penularan, atau apa yang kita sebut efek reaksioner, yang mengarah ke riam langkah-langkah distorsi perdagangan lainnya,” ujar Pamela Coke-Hamilton, kepala perdagangan internasional UNCTAD, Seperti dilaporkan Reuters, Selasa (5/2/2019).

Dia menambahkan negara-negara yang lebih kecil dan lebih miskin akan kesulitan untuk mengatasi guncangan eksternal seperti itu.

Amerika Serikat menerapkan bea tambahan antara 10 persen hingga 25 persen atas barang-barang China senilai 250 miliar dolar AS tahun lalu sebagai hukuman atas apa yang disebut AS praktik perdagangan tidak adil, dan tarif 10 persen akan naik menjadi 25 persen kecuali ada kemajuan signifikan kesepakatan dagang sebelum 1 Maret.

"Implikasinya akan sangat besar. Implikasinya bagi seluruh sistem perdagangan internasional akan sangat negative," lanjut Pamela.

Dia mengatakan kenaikan tarif AS dan langkah pembalasan oleh China akan memicu penurunan ekonomi karena ketidakstabilan di pasar komoditas dan keuangan, sementara langkah-langkah perusahaan untuk beradaptasi akan memberikan tekanan pada pertumbuhan global.

Biaya yang lebih tinggi dari perdagangan AS-China akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk beralih dari rantai pasokan Asia Timur saat ini, tetapi dampak tarif tidak terutama akan menguntungkan perusahaan-perusahaan AS.

Perusahaan-perusahaan AS akan menangkap hanya 6,0 persen dari 250 miliar dolar AS ekspor Tiongkok yang terpengaruh, sementara perusahaan-perusahaan China akan mempertahankan 12 persen, meskipun biaya perdagangan lebih tinggi, kata studi tersebut.

Negara-negara lain diperkirakan akan merebut 82 persen dari nilai ekspor China 250 miliar dolar AS dan 85 persen dari ekspor AS senilai 85 miliar dolar AS yang terkena tarif.

"Uni Eropa akan menangkap 70 miliar dolar AS dari perdagangan AS-China. Jepang, Meksiko, dan Kanada masing-masing akan memperoleh lebih dari 20 miliar dolar AS."

Sumber : Reuters, Antara

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top