PLN Optimis Tahun ini Bakal Untung

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) menjamin bahwa kinerja keuangan sepanjang tahun lalu berhasil mencatatkan laba setelah menyelesaikan persoalan kerugian kurs yang dialami pada kuartal III/2018.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 05 Februari 2019  |  22:10 WIB
PLN Optimis Tahun ini Bakal Untung
Warga memeriksa jaringan listrik di salah satu Rusun di Jakarta. - Bisnis/Nurul Hidayat

PLN Optimis Cetak Laba

Bisnis.com, JAKARTA—PT Perusahaan Listrik Negara (persero) menjamin bahwa kinerja keuangan sepanjang tahun lalu berhasil mencatatkan laba setelah menyelesaikan persoalan kerugian kurs yang dialami pada kuartal III/2018.

Adapun dalam Rancangan Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2018 BUMN kelistrikan itu memasang target laba senilai Rp10 triliun, akan tetapi untuk realisasinya sendiri saat ini belum bisa diungkapkan dan masih dalam tahap audit. Namun untuk RKAP 2019, PLN mematok target laba senilai Rp8 triliun atau lebih rendah 20% dari tahun lalu.

Direktur Utama PT PLN, Sofyan Basir mengatakan kondisi keuangan yang masih positif membuat perusahaan menjanjikan untuk menjaga kestabilan tarif listrik.

“Dijamin tahun ini untung, nggak rugi. Kurs kemarin sudah selesai, untung kita pasti positif. Memang belum audit, tapi pokoknya mengejutkan-lah. Buat masyarakat happy karena tarif nggak perlu naik,”katanya Senin malam (4/2/2019).

RKAP PLN pada 2019 didasarkan pada asumsi bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh di kisaran 5,3% dan inflasi terkendali 3,5%, ICP senilai US$70 serta nilai tukar rupiah Rp15.000.

Perusahaan setrum negara itu juga menargetkan pertumbuhan penjualan 6,96% dibandingkan tahun lalu dengan volume penjualan sebesar 251,1 TWh sepanjang 2019. Asumsi lainnya, sambung dia, adalah harga batubara pada 2019, sebesar Rp898,04 per kg, dan harga gas US$ 8,8 per MMBTU.

Selanjutnya, alokasi kas subsidi sebesar Rp57,1 triliun, dan harga jual rata-rata listrik Rp 1.126 per kWh. Sofyan menjelaskan pada dasarnya asumsi ini sesuai dengan rapat banggar di DPR sebelumnya, sedangkan untuk harga batubara dan gas adalah rata-rata tertimbang di semua pasokan gas pembangkit.Adapun, lanjut Sofyan, pada tahun ini menargetkan total penambahan pelanggan sebesar 3,83 juta, dan daya tersambung sebesar 8,85 juta kVA. Sementara untuk penambahan jaringan tegangan menengah (JTM) di 2019 ditargetkan mencapai 25,32 ribu km, dan jaringan tegangan rendah (JTR) sepanjang 24,07 km, serta penambahan gardu pada 2019 ditargetkan mencapai 4,49 juta kVA.

Sementara itu Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman mengatakan perseroan optimistis akan mencetak laba seperti yang telah dicanangkan lewat sejumlah efisiensi seperti penyederhanaan zonasi pengangkutan batu bara, selain tentunya dukungan pemerintah yang telah membatasi harga batubara untuk kepentingan domestik.

Syofvi menyebut, penyusunan target laba tahun ini memang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya karena terdapat perbedaan asumsi kurs dollar dibandingkan tahun lalu.

“Kenapa 2019 lebih kecil karena asumsi kurs beda, ICP beda. Harga batu bara meskipun tarif tetap, tetapi kan  dalam dollar. Jika kursnya Rp15.000/dollar, makanya turun kan. Mau efisiensi sudah ini,”ungkapnya.

Selanjutnya PLN juga akan selalu mengkaji opsi-opsi pembiayaan paling minim resiko untuk investasi pembangkit listrik dalam menjaga kestabilan neraca keuangan.

Direktur Keuangan PT PLN, Sarwono Sudarto mengatakan PLN sebelumnya memutuskan melakukan reprofiling, yang bisa menekan beban bunga dari semula 8% menjadi 6% serta memperpanjang tengat jatuh tempo hingga 30 tahun.

Selanjutnya, opsi lain yang dilakukan sebelumnya seperti Global Bond juga bisa menjadi sumber alternatif pendanaan, dan tidak menutup kemungkinan sumber pendanaan lain seperti pinjaman perbankan, ataupun sekuritisasi.

“Semakin banyak opsi ya makin leluasa. Sukuk, lokal Bond, pinjaman, reprofiling,”katanya.

Menurut Sarwono, kinerja keuangan PLN juga masih dalam tahap terkendali sesuai rencana investasi yang telah dicanangkan. Secara kumulatif penambahan pinjaman PLN senilai Rp139 triliun hingga akhir kuartal III/2018 juga tergolong  lebih rendah dibandingkan tambahan penyerapan investasi senilai Rp269 triliun. Dia juga memastikan belanja modal perseroan mengalami peningkatan tahun ini lantaran sejumlah proyek pembangkit mulai beroperasi pada 2019.

Tak hanya itu, sambung dia, struktur rasio utang terhadap ekuitas perusahaan masih sehat. Sarwono menyebut dengan ekuitas senilai Rp900 triliun, PLN masih mempunyai batas hutang 300% atau hingga Rp2.000 triliun.

“Besarnya penyerapan investasi menunjukkan kinerja kami masih sehat karena bisa memanfaatkan pendanaan internal. Bahkan pada 2019 ini ada sejumlah proyek yang menghasilkan dan nanti akan nambah ke capex kami,”imbuhnya.

Selama 3 tahun terakhir sejak 2015 yang berakhir pada kuartal III/2018  PLN juga telah menekan penghematan subsidi listrik dari Rp139 triliun. Sementara kontribusi fiskal negara dadri peningkatan pajak dan dividen senilai Rp115,4 triliun.

Belum lagi, kondisi penurunan harga minyak mentah dunia serta mulai menguatnya rupiah menjadi sinyal baik bagi PT PLN (Persero). Setiap rupiah menguat Rp100 per dolar AS dapat mengurangi kerugian PLN hingga Rp1,3 triliun. Seperti diketahui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menembus Rp15.000 per dolar AS, membuat PLN harus membukukan rugi Rp18,46 triliun pada kuartal III/2018.

PLN mengalami kerugian kurs hingga Rp17,32 triliun. Sedangkan pada periode yang sama tahun lalu, rugi kurs hanya sebesar Rp2,2 triliun.  Rugi kurs muncul karena sebagian besar pinjaman PLN dalam bentuk valas.

“Kerugian kurs yang lalu kan hanya pembukuan saja. Tapi hari ini kan nilai tukar di kisaran Rp14.100 kan. Moga-moga turun lagi. Sehingga akhir tahun 2019 makin baik,”tekannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
PLN

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top