Hore, Pemerintah Tidak Menaikkan Biaya Haji Tahun Ini!

Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji 1440H/2019M tak mengalami kenaikan dari tahun lalu yang senilai Rp35,23 juta. 
Yanita Petriella | 05 Februari 2019 17:29 WIB
Pelaksanaan salat di Masjidil Haram, Makkah. - Reuters/Suhaib Salem

Bisnis.com, JAKARTA -- Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji 1440H/2019M tak mengalami kenaikan dari tahun lalu yang senilai Rp35,23 juta. 

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) tahun ini tetap dari tahun lalu. 

Namun apabila dikonversikan ke dalam mata uang dollar, biaya haji tahun ini setara US$2.481 lebih rendah dari tahun lalu yang senilai US$2.632.

"Tahun ini tak ada kenaikan biaya haji. Secara kurs dollar memang biaya haji tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Keputusan ini bersama DPR, nanti akan diterbitkan Keppres tentang BPIH 1440H/2019M," ujarnya, Senin (5/1/2019). 

Menurutnya, biaya haji di Indonesia merupakan yang paling murah bila dibandingkan dengan negara di Asean. 

Biaya haji di Indonesia pada 2015 senilai U$2.717, lebih rendah dibandingkan dengan biaya haji Brunei Darussalam senilai U$8.738, Singapura yang senilai U$5.176 dan Malaysia senilai $2.750.

Lalu di 2016, biaya haji di Indonesia senilai U$2.585, lebih rendah dari Brunei yang senilai U$8.788, Singapura senilai U$5.354 dan Malaysia $2.568.

Tahun 2017, biaya haji Tanah Air senilai U$2.606, lebih murah dibandingkan dengan Brunei yang senilai U$8.422, Singapura senilai U$4.436 dan Malaysia U$2.254. 

Pada tahun lalu, biaya haji Indonesia senilai U$2.632, sementara biaya haji di Brunei senilai $8.980, Singapura senilai U$5.323 dan Malaysia U$2.557. 

Dia menuturkan meski biaya penyelenggara haji lebih tinggi dari Malaysia, namun lebih murah karena dari biaya yang dibayarkan jemaah sebesar U$400 atau setara SAR1.500 yang dikembalikan lagi kepada setiap jemaah haji sebagai biaya hidup di Tanah Suci.

"Komponen biaya tersebut bersifat dana titipan saja. Saat di asrama haji embarkasi, masing-masing jemaah yang akan berangkat akan menerima kembali dana living cost itu sebesar U$400 atau setara SAR1.500," terangnya. 

Pihaknya menjamin akan ada peningkatan kualitas pelayanan haji dibanding dengan tahun lalu meski biaya haji tetap. 

"Tenda di Arafah akan menggunakan AC. Urinoir di Mina akan ditambah jumlahnya. Bus Shalawat akan melayani jemaah yang tinggal di luar radius 1 kilometer dari Masjidil Haram," kata Lukman. 

Ketua Panja BPIH Ace Hasan Syadzily menuturkan biaya haji tahun ini yang tetap karena adanya depresiasi mata uang asing yang memengaruhi biaya haji dan ada kenaikan general fee nasabah sebesar 10% yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.

"Kami cari solusi terbaik agar biaya haji tidak memberatkan jamaah haji. Biaya haji 2019 tidak naik, tetapi turun jika dikonversikan ke mata uang dollar AS," ucapnya.

Ketua Sarikat Penyelenggara Umrah dan Haji Indonesia (Sapuhi) Syam Resfiadi mengapresiasi langkah pemerintah yang tak menaikkan biaya haji reguler pada tahun ini. 

"Kalau naik tentu memberatkan para jemaah. Kami apresiasi itu. Terlebih kondisi ekonomi yang sedang bergejolak," ujarnya. 

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah dan In-Bound Indonesia (Asphurindo) Magnatis Chaidir menambahkan biaya haji memang sudah seharusnya tak mengalami kenaikan karena jemaah haji reguler harus menunggu 10 hingga 15 tahun. Daftar tunggu itu setelah jemaah menyetorkan uang muka sebesar Rp25 juta ke bank.

Tentunya dengan uang ditaruh di bank, pemerintah memperoleh hasil yang dapat digunakan untuk menutupi komponen pembiayaan haji yang naik seperti hotel dan transportasi. 

"Masa tunggunya lama memang seharusnya enggak naik tapi kalau bisa turun. Pemerintah bisa dapet hasil dari bank untuk membayar kenaikan komponen haji," katanya.

Tag : Ibadah Haji
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top