Perundingan Dagang AS-China Mulai Ada Kemajuan, Ini Hasil Pertemuan 2 Hari di Washington

Setelah melangsungkan perundingan perdagangan selama dua hari di Washington, China berjanji "secara substansial" untuk memperbanyak pembelian barang AS. Kedua belah pihak merencanakan diskusi berikutnya sekitar pertengahan Februari sebelum pemerintahan Trump memberlakukan kenaikan tarif pada Maret.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 02 Februari 2019  |  01:48 WIB
Perundingan Dagang AS-China Mulai Ada Kemajuan, Ini Hasil Pertemuan 2 Hari di Washington
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah melangsungkan perundingan perdagangan selama dua hari di Washington, China berjanji "secara substansial" untuk memperbanyak pembelian barang AS. Kedua belah pihak merencanakan diskusi berikutnya sekitar pertengahan Februari sebelum pemerintahan Trump memberlakukan kenaikan tarif pada Maret.

Kantor berita Xinhua China pada Jumat (1/2/2019) melaporkan kedua negara membuat sejumlah kemajuan penting selama perbincangan yang digambarkan berjalan dengan lancar dan membuahkan hasil. Dari pertemuan ini pemerintah China telah setuju untuk meningkatkan impor pertanian, energi, serta produk dan layanan industri AS.

"Kedua negara adidiaya ini juga sepakat untuk memperkuat kerjasama terkait hak properti intelektual dan transfer teknologi," tulis Xinhua, seperti dikutip melalui Bloomberg, Jumat (1/2/2019).

Dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih tidak mencantumkan komitmen apa saja yang dicapai dengan China, mereka hanya menyatakan bahwa perundingan kali ini telah membawa arah perdagangan kepada kemajuan meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Meski demikian pemerintahan Trump menegaskan ancaman kenaikan tarif barang-barang China senilai US$200 miliar pada 1 Maret 2019 tetap berlaku kecuali negosiasi antara kedua belah pihak mencapai hasil yang memuaskan.

Presiden AS Donald Trump, pada Kamis (31/1) waktu Washington, mengatakan bahwa dia akan mengirim dua negosiator terbaiknya ke Beijing, yakni Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer pada pertengahan Februari untuk mengadakan sesi pembicaraan berikutnya.

Trump yang hadir dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He pada sesi konferensi di Gedung Putih juga membahas kemungkinan pertemuan lanjutan dengan Presiden China Xi Jinping setelah menerima undangan dari pemimpin China.

"Kami belum mengagendakan pertemuan hingga saat ini. Saat ini masih ada beberapa hal yang sedang dikerjakan. Setelah itu baru kami akan bertemu untuk mendiskusikan sejumlah keputusan akhir," ujar Trump kepada reporter seperti dikutip melalui siaran pers yang diterima Bisnis.

Satu momen yang paling memungkinan bagi kedua presiden untuk bertemua adalah setelah agenda KTT Trump dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jongun pada akhir Februari.

Pada kesempatan yang sama Trump juga menyampaikan kemajuan dari segi perdagangan bahwa Pemerintah China telah sepakat untuk memesan kedelai Amerika dalam jumlah besar, dia menyebut tawaran ini sebagai tanda niat baik dari Beijing.

Seorang pejabat administrasi kemudian mengklarifikasi jumlah total 5 juta ton, hal ini secara efektif menggandakan jumlah yang dibeli oleh China sejak melanjutkan pembelian terbatas pada bulan Desember.

Penjualan kedelai AS ke China, yang berjumlah 31,7 juta ton pada tahun 2017, sebagian besar terhenti pada paruh kedua tahun lalu oleh tarif pembalasan China.

Sementara China telah menawarkan peningkatan pembelian produk agrikultur , energi dan barang-barang lainnya untuk mencoba menyelesaikan sengketa perdagangan, para negosiator mengulik isu yang lebih sulit.

Salah satunya adalah tuntutan AS agar China segera mengambil langkah-langkah untuk melindungi kekayaan intelektual Amerika dan mengakhiri kebijakan, yang dikatakan Washington, memaksa perusahaan-perusahaan AS untuk menyerahkan teknologi kepada perusahaan China.

Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mengatakan bahwa pertemuan antara China dan AS kali ini membahas lebih banyak tentang tuntutan AS kepada China untuk mempercepat proses reformasi struktural.

Dia mengatakan, bagaimanapun, kedua belah pihak saat ini baru saja mulai menyusun dokumen negosiasi yang umum, artinya masih banyak pekerjaan mendetil yang tersisa untuk menyelesaikan substansi perdagangan antar China dan AS.

Ligthizer menyampaikan saat ini AS dan China masih dalam tahap pengerjaan seperti apa bentuk kesepakatan akhir yang akan disepakati.

"Ada satu hal yang harus kami pertimbangkan adalah apakah kesepakatan ini nantinya akan berlanjut pada pemerintahan berikutnya. Karena di masa lalu China pernah membatalkan memo of understanding setelah beberapa waktu," ujarnya seperti ditulis Bloomberg.

Pemerintah AS bersikeras bahwa kesepakatan apapun harus ditegakkan dan Lighthizer mengatakan hal tersebut merupakan gagasan dasar dari seluruh rangkaian perundingan perdagangan yang sudah maupun yang akan dilaksanakan berikutnya.

Namun, sejumlah pihak yang paham tentang diskusi ini mengatakan pihak AS secara internal hingga saat ini belum mencapai kesepakatan apapun terkait kebijakan apa yang akan mereka ambil.

Sementara itu pemerintah China telah menunjukkan kesediaan mereka untuk mendorong kesepakatan apapun agar dapat diimplementasikan. Sejauh ini China telah mempertimbangkan sejumlah ide serperti memiliki pengadilan arbitrase independen yang tidak mungkin diterima AS, ujar seorang narasumber yang tidak disebutkan namanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top