Batas Waktu Tarif Mendekat, Trump Balik Kirim Utusan ke China

Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China menyatakan telah membuat kemajuan dalam perundingan perdagangan mereka dan sepakat untuk bertemu lagi di Beijing.
Renat Sofie Andriani | 01 Februari 2019 09:39 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan China menyatakan telah membuat kemajuan dalam perundingan perdagangan mereka dan sepakat untuk bertemu lagi di Beijing.

Kedua belah pihak berupaya keras mencari solusi terbaik yang dapat menyudahi konflik perdagangan antara kedua negara sebelum batas waktu periode terhentinya pengenaan tarif berakhir pada 1 Maret mendatang.

Pada Kamis (31/1/2019), Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mengutus dua dari negosiator kepercayaanya ke China setelah perundingan perdagangan kedua negara yang telah berlangsung selama dua hari terakhir tuntas terlaksana di Washington.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin dan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dinyatakan akan mengunjungi China pada pertengahan Februari untuk mengadakan putaran pembicaraan berikutnya.

Trump juga membuka kemungkinan tatap muka langsung dengan Presiden Xi Jinping setelah menerima undangan resmi dari pemimpin China tersebut.

Trump sempat menuliskan dalam akun Twitter-nya bahwa kesepakatan perdagangan kedua negara tidak akan tercapai sampai ia dan Xi Jinping bertemu dalam waktu dekat.

Kedua pemimpin negara kemungkinan bisa berdiskusi setelah Trump merealisasikan rencananya untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Februari.

“Kedua tim telah membuat kemajuan luar biasa tetapi tidak berarti kami telah memiliki kesepakatan [perdagangan],” ujar Trump kepada wartawan di Oval Office setelah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri China Liu He, seperti dilansir Bloomberg.

Pada kesempatan yang sama, Trump mengatakan China telah setuju untuk membeli sejumlah besar kedelai AS. Penawaran tersebut disebutnya sebagai pertanda maksud yang baik.

Kesepakatan kedua belah pihak untuk terus berunding meningkatkan harapan bahwa dua negara berkekuatan ekonomi terbesar dunia itu dapat menemukan cara untuk mengakhiri konflik mereka sebelum 1 Maret.

Jika gagal, pemerintahan Trump telah menyatakan untuk menaikkan tarif terhadap impor barang-barang senilai US$200 miliar asal China.

Kendati demikian, ada sedikit bukti konkret bahwa mereka telah menjembatani perbedaan atas isu-isu penting seperti kebijakan China tentang kekayaan intelektual dan keterlibatan negara dalam ekonominya.

Menurut sebuah pernyataan yang dipublikasikan kantor berita Xinhua pada Jumat (1/2/2019), pembicaraan antara kedua belah pihak berlangsung jujur, spesifik, dan produktif. Meski tidak ada perincian lebih lanjut, pembicaraan antara kedua negara disebut telah membuat kemajuan penting.

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan, Gedung Putih hanya menyebutkan telah membuat kemajuan meskipun masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Gedung Putih menegaskan kembali ancamannya untuk menaikkan tarif pada 1 Maret, apabila tidak tercapai kesepakatan perdagangan yang memuaskan.

Kepada wartawan, Lighthizer pada Kamis mengatakan kedua belah pihak telah terlibat dalam diskusi yang intens dan terperinci. Sebagian besar dari pembicaraan itu terfokus pada tuntutan AS untuk reformasi struktural China pekan ini.

Bagaimana pun, dia mengakui bahwa kedua belah pihak baru saja mulai menyusun dokumen negosiasi. Ini menjadi pertanda banyaknya pekerjaan yang tersisa untuk menyelesaikan substansi tersebut.

Sejumlah pihak dalam komunitas bisnis AS tetap mengambil sikap hati-hati terhadap kesepakatan yang mereka khawatirkan dapat meninggalkan beberapa masalah rumit dalam hubungan ekonomi yang tidak terselesaikan.

Myron Brilliant, wakil presiden eksekutif dan kepala urusan internasional di Kamar Dagang AS, mengatakan, meskipun ada kemajuan yang dicapai pekan ini, kenyataannya masih banyak kerja keras yang harus diupayakan.

Lambannya pembicaraan dan segunung isu yang masih harus disepakati membentuk apa yang bisa menjadi masa-masa tegang hingga batas waktu 1 Maret. Tatap muka Trump dan Xi Jinping mendatang dipandang sebagai satu-satunya cara untuk menjembatani perbedaan mereka.

“Pernyataan itu tentu menandakan kemajuan, tetapi kemajuan yang terbatas mengenai inti isu struktural jangka panjang yang memisahkan kedua belah pihak," kata Eswar Prasad, seorang profesor kebijakan perdagangan di Cornell University.

"Pernyataan itu berakhir dengan ancaman bahwa China perlu menawarkan konsesi yang lebih substantif untuk memungkinkan tercapainya kesepakatan yang dapat menghindari tarif lebih lanjut.”

Tag : Donald Trump, perang dagang AS vs China
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top