Ini Pemicu Kenaikan Harga Tiket Pesawat Menurut Pengamat

Jaringan Penerbangan Indonesia menilai kenaikan harga tiket beberapa waktu lalu lebih disebabkan karena kenaikan permintaan pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru 2019.
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  16:53 WIB
Ini Pemicu Kenaikan Harga Tiket Pesawat Menurut Pengamat
/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Jaringan Penerbangan Indonesia menilai kenaikan harga tiket beberapa waktu lalu lebih disebabkan karena kenaikan permintaan pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru 2019.

Sekretaris Jaringan Penerbangan Indonesia Gerry Soedjatman menyatakan kenaikan harga tiket pesawat itu bukan karena maskapai yang sengaja ingin mengeruk pendapatan.

"Kemarin itu harga tiket naik sebenarnya karena demand masih tinggi saja. Namanya juga transisi, dari peak season ke low season," katanya, Senin (14/1/2019). 

Dia memprediksi periode low season transportasi udara akan dimulai pada pertengahan bulan ini hingga April 2019 atau sebelum masa angkutan Lebaran 2019.

Kendati demikian, Gerry tetap mengapresiasi niat positif Kementerian Perhubungan yang ingin membantu maskapai untuk mengurangi beban operasionalnya.

"Saat ini harga tiket pesawat sudah diturunkan. Jangan-jangan nanti ada yang protes lagi harga tiket terlalu murah dengan embel-embel berisiko terhadap safety," ujarnya.

Dia menambahkan wacana pemerintah untuk membantu maskapai dalam mengurangi biaya operasional dalam bentuk penurunan sejumlah komponen tarif sebenarnya sudah dibahas sejak lama. Akan tetapi, seringkali tidak ada kelanjutan yang jelas.

Menurutnya, upaya penurunan harga avtur, biaya kebandarudaraan, dan navigasi perlu dikaji secara matang oleh pemerintah. Harga avtur tidak bisa dengan mudah diturunkan karena selalu mengacu pada harga minyak dunia.

Pertamina Aviation, selaku pemasok avtur maskapai nasional, juga dinilai tidak mungkin menjual rugi. Namun, hal tersebut masih bisa diupayakan melalui negosiasi antar kementerian.

Selanjutnya, upaya Kemenhub untuk mereduksi tarif kebandarudaraan akan terbentur dengan negosiasi kontrak yang sebelumnya hanya antara pengelola bandara dengan pemerintah. Perlu adanya perubahan regulasi dengan menyertakan maskapai sebagai pihak yang masuk dalam negosiasi kontrak.

Dia berpendapat penurunan biaya navigasi atau air route juga perlu melihat kebutuhan investasi AirNav Indonesia. Terlebih, lembaga tersebut mengandalkan biaya kenavigasian sebagai sumber pendapatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tiket pesawat

Editor : Hendra Wibawa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup