Kenapa Investasi di Indonesia Naik, tetapi Serapan Tenaga Kerja Turun?

Pertumbuhan investasi dalam 8 tahun terakhir diiringi dengan penurunan serapan tenaga kerja hingga separuhnya. Perkembangan otomasi sektor industri dan kurangnya daya saing sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi memengaruhi terbentuknya tren tersebut.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  20:41 WIB
Kenapa Investasi di Indonesia Naik, tetapi Serapan Tenaga Kerja Turun?
Pekerja berjalan melewati rel kereta api di Jakarta, Selasa (14/3). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan investasi dalam 8 tahun terakhir diiringi dengan penurunan serapan tenaga kerja hingga separuhnya. Perkembangan otomasi sektor industri dan kurangnya daya saing sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi memengaruhi terbentuknya tren tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menjelaskan bahwa korelasi antara nilai investasi dan penyerapan tenaga kerja yang menyusut menunjukkan adanya masalah dalam penyediaan lapangan kerja di Indonesia.

Dia memaparkan, berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) total investasi yang masuk ke Indonesia, baik bebentuk penanaman modal asing (PMA) maupun penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp206 triliun. Jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat pada 2016 menjadi Rp608 triliun.

Pada 2010, tercatat 5.020 orang tenaga kerja terserap dari setiap Rp1 triliun investasi yang masuk. Jumlah serapan tenaga kerja menyusut pada 2016 menjadi 2.200 orang per Rp1 triliun.

"Total investasi naik tiga kali lipat, tapi penyerapan tenaga kerjanya turun 50% lebih. Ini berlanjut lagi pada 2018, data resminya belum keluar tapi kami perkirakan itu menyusut lagi, per satu triliunnya dari 2200 orang itu," ujar Hariyadi di Jakarta, Senin (14/01/2019).

Dia menilai adanya pembiaran pada mix and match secara vertikal maupun horizontal di lapangan kerja menyebabkan berkembangnya tren tersebut.

Vertikal di sana menurut Hariyadi menyangkut pembiaran tenaga kerja bekerja tidak sesuai jenjang pendidikan, sedangkan horizontal menyangkut pembiaran kerja yang tidak sesuai bidang.

Pembiaran tersebut menurutnya didasari upah minimum yang tinggi bagi tenaga kerja sehingga perusahaan sulit melakukan penyelarasan kemampuan akademik tenaga kerja dengan bidang yang dikerjakan.

Permasalahan tersebut kemudian menurut Hariyadi dapat menghambat pengembangan kualitas tenaga kerja, terlebih untuk menghadapi era industri 4.0.

"Kita tidak pernah membedah secara keseluruhan, dengan angkatan kerja setiap tahun dua juta orang dan penyerapan tenaga kerja yang semakin sempit ini kan tidak pernah terpikirkan. Kita selalu berpikir seolah-olah industri baik-baik saja, bisa tetap menyerap jumlah besar, itu yang sebetulnya keliru," tambah Hariyadi.

Sekjen Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar menilai fenomena tersebut terjadi seiring berkembangnya otomasi dalam sektor industri, sehingga tidak semua sektor menyerap banyak tenaga kerja.

Dia menilai peningkatan nilai investasi pun perlu dicermati karena investasi padat modal juga turut meningkat.

"Kita lihat dulu dia [investasi] di sektor high-tech, capital intensive atau labour intensive. Jadi kita tidak bisa membandingkan yang lalu sekian, jumlah investasi sekian, tenaga kerja sekian serapannya, perlu dilihat ke mana arahnya [investasi]," ujar Haris saat ditemui di kantor Kemenperin, Senin sore (14/01/2019).

Perkembangan industri 4.0 sendiri menurutnya mendorong perkembangan industri padat modal dan padat karya.

Beberapa sektor prioritas pengembangan industri 4.0 menurutnya memiliki arah yang berbeda, seperti industri otomotif cenderung memiliki serapan tenaga kerja yang lebih sedikit per Rp1 triliun investasi dibandingkan sektor padat karya seperti industri tekstil.

Haris menjelaskan bahwa kualitas tenaga kerja Indonesia masih perlu dikembangkan. Terlepas dari tren penurunan serapan tenaga kerja, Haris menilai langkah pemerintah untuk fokus pada pengembangan SDM sudah tepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top