Presiden Bank Dunia Selanjutnya Bukan Warga AS? Sri Mulyani Dinilai Cocok

US Chairman lembaga think tank Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) Mark Sobel menyebut sejumlah kandidat yang cocok menjabat posisi presiden Bank Dunia, termasuk Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani atau mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala. Keduanya pernah menjabat sebagai managing director di Bank Dunia.
Aprianto Cahyo Nugroho | 11 Januari 2019 19:46 WIB
Sri Mulyani dengan catatan akhir tahun 2018 - facebook

Bisnis.com, JAKARTA – Pengunduran diri Jim Yong Kim sebagai presiden Bank Dunia awal pekan ini secara tiba-tiba menyisakan pertanyaan: siapakah yang akan menjadi pemimpin lembaga keuangan global tersebut selanjutnya?

Dalam pesan melalui email yang ditujukan kepada Karyawan Bank Dunia, Kim menyampaikan akan meninggalkan posisinya di lembaga keuangan internasional itu secara efektif pada 1 Februari 2019, dan akan bergabung dengan perusahaan swasta yang bergerak pada investasi infrastruktur di negara berkembang.

Sejak pembentukan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia pada akhir Perang Dunia II, hanya warga Amerika Serikat yang pernah memimpin Bank Dunia, sedangkan IMF terus dimpimpin oleh warga Eropa. Ini seakan menjadi konvensi tak tertulis antara dua lembaga tersebut. Kim sendiri adalah warga AS keturunan Korea.

US Chairman lembaga think tank Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) Mark Sobel mengatakan konvensi hanya logis pada masa pascaperang ketika ekonomi-ekonomi maju utama mendominasi ekonomi global. Kepergian Kim menghadirkan kesempatan untuk mengevaluasi kembali konvensi ini.

“Jika negara emerging markets dan negara berkembang ingin secara serius menantang konvensi ini, mereka perlu bertindak cepat untuk menemukan kandidat yang kuat, kredibel, dan dihormati secara global,” ungkap Sobel dalam risetnya.

Sobel menyebut sejumlah kandidat yang cocok menjabat posisi presiden Bank Dunia, termasuk Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani atau mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala. Keduanya pernah menjabat sebagai managing director di Bank Dunia.

Sejak KTT G20 tahun 2009, ada kesepakatan bahwa kepala dan pimpinan lembaga keuangan internasional harus dipilih melalui proses seleksi yang terbuka dan transparan.

Namun, hingga saat ini konvensi kepemimpinan di dua lembaga tersebut belum berubah. Ketika Dominique Strauss-Kahn terpaksa mengundurkan diri sebagai direktur pelaksana IMF pada 2011, Prancis bertindak cepat untuk mencalonkan Christine Lagarde.

Beberapa bulan kemudian ketika posisi presiden Bank Dunia dibuka, semuanya warga negara AS kembali memegang kendali, meskipun dua mantan menteri keuangan juga berkompetisi (Okonjo-Iweala dari Nigeria dan José Antonio Ocampo dari Kolombia).

Lansekap ekonomi global yang berubah membuat konvensi tersebut ketinggalan zaman. Ada banyak kandidat potensial yang sangat baik di seluruh dunia,” ungkap Sobel.

Sobel berpendapat bahwa dengan memilih pimpinan IMF dan Bank Dunia selain warga AS atau Eropa akan meningkatkan kedudukan global kedua lembaga tersebut, dan akan membantu melawan penyimpangan menuju regionalisme.

Lebih lanjut, jika konvensi itu dipertahankan, Eropa mungkin bersikeras memimpin IMF ketika Lagarde lengser. Di lain pihak, jika seorang non-Amerika mengambil alih Bank Dunia, kepemimpinan Eropa di IMF mungkin akan berakhir.

Tag : bank dunia, sri mulyani
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top