Apple Jadi Korban Perlambatan China, Louis Vuitton & Merek Mewah Lain Tunggu Giliran

Revisi angka penjualan Apple mengalir mempengaruhi pasar global, tidak hanya menghempaskan saham pemasok komponen dan bahkan saingannya, tetapi juga sejumlah perusahaan barang mewah yang bergantung pada pelanggan yang sama yang suka berbelanja produk-produk terbaru Apple.
Aprianto Cahyo Nugroho | 04 Januari 2019 14:56 WIB
Louis Vuitton - Ilustrasi/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Penurunan pendapatan Apple Inc. menyusul turunnya penjualan iPhone di China dengan cepat berimbas terhadap pasar global.

Tak hanya itu, investor dengan cepat berspekulasi bahwa jika konsumen China mengurangi pembelian iPhone, mereka juga mungkin mengurangi pembelian barang-barang mewah seperti tas Louis Vuitton.

Revisi angka penjualan Apple mengalir mempengaruhi pasar global, tidak hanya menghempaskan saham pemasok komponen dan bahkan saingannya, tetapi juga sejumlah perusahaan barang mewah yang bergantung pada pelanggan yang sama yang suka berbelanja produk-produk terbaru Apple.

Prada SpA yang terdaftar di bursa saham Hong Kong, Kering SA, LVMH Moet Hennessy Louis Vuitton, Burberry Group Plc dan Richemont, induk dari perhiasan Cartier, semuanya melemah setelah anjloknya saham Apple.

"Akan menjadi jauh lebih sulit untuk membuat catatan positif di China karena pasar semakin ketat," kata David Roth, chief executive officer The Store, usaha ritel global WPP Plc, seperti dikutip Bloomberg.

"Ini adalah sinyal yang menantang dan orang perlu menekan dan memahami China dengan lebih baik dan mempersiapkan diri," lanjutnya

Apple memangkas prospek pendapatan kuartalan menjadi US$84 miliar dari US$93 miliar, sebagian karena turunnya permintaan di China. Hal ini memicu peringatan di seluruh industri mewah, karena konsumen China menyumbang sekitar 30% persen dari US$1 triliun pengeluaran barang mewah di seluruh dunia, menurut Euromonitor International.

Saham Prada turun 3,6% di Hong Kong pada hari Jumat. Di Eropa pada hari Kamis, saham Kering SA turun 5,5%, sedangkan LVMH dan Burberry merosot masing-masing 3,8% dan 5,9%.

Penurunan Permintaan

Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan barang mewah dari LVMH hingga Tiffany & Co. telah menargetkan turis-turis kaya asal China, yang mencari tas tangan, perhiasan, dan barang-barang mewah lainnya saat berlibur di Paris atau Dubai.

Investor khawatir bahwa penurunan yuan, tekanan ekonomi karena perang dagang dengan AS, dan tindakan keras pemerintah terhadap pembelian di luar negeri dapat mengurangi permintaan.

Richemont, yang harga sahamnya merosot 2,8%, sudah merasakan panasnya dampak ini. Produsen jam tangan dan barang-barang perhiasan asal Swiss memberi isyarat pada November bahwa pertumbuhan penjualan di China telah melambat.

Di sisi lain, peritel barang mewah lainnya masih mempertahankan nada yang lebih bullish, dengan LVMH dan Kering mengutip penjualan China yang kuat pada bulan Oktober dan mengatakan mereka menyambut baik sebagai peralihan ke penjualan domestik.

Ujian terbesar bagi pada peritel akan datang dengan perayaan Tahun Baru China, yang dimulai pada 5 Februari. Liburan Tahun Baru China selama sepekan telah lama menjadi kesempatan utama bagi pembeli dari China untuk berbelanja secara royal.

Sekitar dua pertiga dari penjualan tersebut terjadi di luar negeri ketika turis bepergian ke luar negeri, mengambil keuntungan dari pilihan yang lebih baik dan harga yang lebih murah daripada yang tersedia di dalam negeri.

Pergeseran Domestik

Tetapi dengan perang perdagangan dengan AS yang membebani saham dan mata uang China, dan pemerintah Presiden Xi Jinping berusaha untuk mendorong ekonomi yang goyah, lebih banyak warga China daratan memilih untuk melakukan belanja mereka di negeri daripada dalam perjalanan ke luar negeri.

"Jelas ada perubahan yang mulai terjadi dalam pola konsumsi: orang-orang China untuk membeli lebih banyak di dalam negeri," kata Pascal Martin, mitra di OC&C Strategy Consultants.

Pajak atas pakaian impor yang sempat mencapai 25% sekarang hanya 7,1%. Tindakan tegas baru-baru ini oleh pemerintah China pada pelancong yang pulang ke dalam negeri dengan barang-barang yang tidak dilaporkan juga mendorong konsumsi lokal.

“Kesenjangan antara pengeluaran warga China di luar negeri dan dalam negeri untuk barang mewah menyusut dan mengarah ke keseimbangan”, menurut laporan HSBC bulan lalu.

Perusahaan berjuang untuk menyesuaikan diri dengan membuka lebih banyak toko di China atau bermitra dengan outlet online lokal seperti Tmall milik  Alibaba Group Holding Ltd.

Ermenegildo Zegna, yang memiliki toko di 35 kota di China, pada Desember membuka toko utama di Tmall Luxury Pavilion, menyusul langkah serupa oleh rumah mode Italia Valentino pada November.

Kebingungan Peritel

Perubahan dalam pola konsumsi membuat pengecer harus memutar otak, termasuk Tiffany, yang telah lama mengandalkan pembeli asal China untuk berbelanja Fifth Avenue atau Rodeo Drive.

Pada bulan November, Tiffany melaporkan penjualan yang lebih rendah dari perkiraan dan menyoroti jelas pembeli China dalam mengurangi pengeluaran ketika mereka di luar negeri. Namun penjualan di China sendiri tetap kuat.

Analis Bloomberg Intelligence, Catherine Lim mengatakan pergeseran ke pembelian domestik yang lebih banyak juga akan menciptakan persaingan yang lebih ketat tahun ini karena lebih banyak pemain asing bersaing untuk mendapatkan uang konsumen di China.

Salah satu strategi utama yang dimiliki perusahaan adalah fokus pada generasi milenial yang mengerti teknologi dan Generasi Z yang lebih muda. Sub-kelompok pembeli tersebut diperkirakan mencakup 55% dari total pembelian barang mewah pribadi global pada tahun 2025, menurut laporan Bain & Co. pada November.

Tag : apple, ekonomi china
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top