Pelarangan Jalan Umum untuk Truk Batu Bara di Sumsel, Ekspor Batu Bara & Proyek Kelistrikan Bisa Terganggu

Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia memperkirakan kebijakan penutupan jalan umum untuk angkutan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan yang mulai berlaku kemarin (7/11) berpotensi mengganggu kinerja ekspor dan pasokan ke proyek kelistrikan domestik.
Anitana Widya Puspa | 08 November 2018 10:06 WIB
Warga memancing ikan di sekitar kapal tongkang pengangkut batu bara di perairan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (30/10/2018). - ANTARA/Aji Styawan

APBI: Ganggu Kinerja Ekspor dan Proyek Kelistrikan Domestik

 

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia memperkirakan kebijakan penutupan jalan umum untuk angkutan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan yang mulai berlaku kemarin (7/11) berpotensi mengganggu kinerja ekspor dan pasokan ke proyek kelistrikan domestik.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan bahwa saat ini jumlah produksi batu bara di Sumsel diperkirakan 48.5 juta ton, atau sekitar 10%-12% dari total produksi nasional.

Dia melanjutkan, sementara itu untuk volume batu bara yang melewati jalan yang aksesnya ditutup oleh pemprov itu diperkirakan sekitar 5,8 juta ton per tahun.

Namun, saat ini APBI juga sedang melakukan kroscek dan konfirmasi dari anggotanya yang memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah itu.

“Mugkin bisa  d- double check juga ke pemda setempat terkait jumlah produksi batu bara di Sumsel. Kami sendiri belum tahu berapa potensi kerugiannya karena lagi mengecek. Tapi, tentu saja akan berdampak negatif dan berpotensi mengganggu ekspor dan pasokan ke proyek kelistrikan domestik,” katanya kepada Bisnis, Rabu (7/11/2018).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top