Pelarangan Jalan Umum untuk Truk Batu Bara di Sumsel, Pusat Diminta Turun Tangan

Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) meminta pemerintah pusat turun tangan atas kisruh penutupan jalan umum untuk angkutan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Pemprov Sumsel).
Denis Riantiza Meilanova | 08 November 2018 09:49 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) meminta pemerintah pusat turun tangan atas kisruh penutupan jalan umum untuk angkutan batu bara oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Pemprov Sumsel).

Juru Bicara APLSI Rizal Calvary mengatakan, dampak dari kebijakan tersebut seluruh angkutan batubara di Sumsel terancam lumpuh total.

“Dampak dari kebijakan itu, semua pelaku usaha pertambangan resah. Sebab semua angkutan batubara terancam tidak bisa beroperasi, dan siap-siap pasokan batubara ke pembangkit terhenti,” ujar Rizal melalui keterangan tertulisnya, Rabu (7/11/2018).

Menurut Rizal, terhitung mulai Kamis (8/11), jalan umum di Sumatera Selatan dipastikan steril dari angkutan truk batubara. Kepastian itu diungkapkan Gubernur Sumsel Herman Deru melalui Sekda Sumsel Nasrun Umar, saat jumpa pers di Ruang Rapat Bina Praja, Selasa, (6/11).

“Truknya kan semua melalui jalan umum dulu dari titik awal di tambangnya, kemudian ke sub-station kereta api dan jalan khusus. Terancam lumpuh total. Bisa mogok semua,” ucap Rizal.

Rizal meminta agar Pemprov Sumsel mencabut kembali kebijakan tersebut, sampai adanya win-win solution, baik bagi dunia usaha maupun pemerintah. Sebab, kebijakan ini akan berdampak negatif terhadap industri listrik dan perekonomian lokal dan nasional.

Dia memperkirakan Sumsel akan merugi sebesar US$1,2 miliar atau Rp18,3 triliun/tahun bila terjadi penutupan jalan untuk batubara. Kerugian ini akibat dari berkurangnya penjualan batu bara di Sumsel sebesar 23 juta ton per tahun.

Saat ini, kata Rizal, sebagian besar pembangkit listrik di Jawa dan Sumatera sangat tergantung pada pasokan batubara dari Sumatera Selatan. Maka dari itu, bila pasokan batu bara terganggu, berpotensi akan memadamkan sebagian besar listrik di Jawa dan Sumatera.

“Digabung seluruh Kalimantan pun, produksi batubara Sumatera Selatan yang terbesar. Sumsel memasok untuk sebagian besar pembangkit Sumatera dan Jawa,” ujarnya.

Rizal memaparkan Sumsel merupakan lumbung energi nasional. Selain memperkuat cadangan devisa, Sumsel juga berperan dalam menjaga ketahanan energi nasional, utamanya ketersediaan listrik.

“Pada tahun 2018, total produksi batubara Sumatera Selatan diperkirakan sekitar 48,5 juta ton atau 9 % produksi nasional,” ucap Rizal.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top