Per 2019, Malaysia Bakal Jadi Ketua Dewan Negara Produsen CPO

Malaysia secara resmi menjadi ketua Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), dimulai sejak 1 Januari 2019 untuk periode dua tahun.
M. Richard | 08 November 2018 18:44 WIB
Perkebunan kelapa sawit - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Malaysia secara resmi menjadi ketua Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), dimulai sejak 1 Januari 2019 untuk periode dua tahun.

Direktur Eksekutif CPOPC Mahendra Siregar, Malaysia akan menjabat sebagai ketua pada tahun depan.

"Iya Malaysia akan menjadi ketua tahun depan, tetapi ini hanya jabatan yang didapat atas dasar penggiliran," katanya, Kamis (8/11/2018).

Adapun, hari ini (8/11/2018) negara CPOPC melakukan ministerial meeting di Putrajaya, Malaysia.

Mahendrea mengatakan, tidak hanya melakukan pergantian ketua, CPOPC juga meresmikan Kolombia sebagai negara anggota ke-3.

"Sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar di benua Amerika, Colombia sebagai anggota memperkuat yang akan CPOPC secara keseluruhan dan menyediakan aliansi strategis di antara negara-negara produsen minyak sawit, diharapkan juga dapat mempromosikan kepentingan minyak sawit dalam ekonomi global," jelasnya dalam siaran pers CPOPC.

Dia menjelaskan, Colombia akan baanyak membantu Indonesia dalam menjalankan misi bersama, yakni mengembangkan industri sawit, peningkatan konsumsi negara anggota, dan melawan kampanye hitam.

Berdasarkan siaran pers CPOPC, Menteri Industri Primer Malaysia Teresa Kok dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Darmin Nasution bertemu membahas hal-hal penting terkait sawit.

Adapun, pembahasannya. Pertama, CPOPC akan terus berupaya memperluas keanggotaan dengan mengundang negara-negara penghasil minyak sawit utama lainnya. "Saat ini sudah ada dja negara produsen yang mendaftar, dan ini kami juga lagi proses," kata Mahendra.

Kedua, CPOPC sepakat meningkatkan produktivitas dan pendapatan para petani kecil melalui praktik-praktik pertanian yang baik dan mempercepat program penanaman kembali.

Pasalnya, petani kecil memiliki peran penting dalam industri minyak sawit karena mereka bertanggung jawab atas sebagian besar output global. 

Ketiga, CPOPC akan fokus pada program wajib biodiesel di negara-negara anggota masing-masing, serta akan mendorong penggunaan biodiesel sawit ke negara-negara konsumen prospektif lainnya.

Keempat, sebagai negara penghasil kelapa sawit, anggota CPOPC akan melanjutkan semua upaya untuk melawan kampanye anti minyak sawit tersebut.

Kedua menteri prihatin atas kampanye anti minyak sawit yang dipicu oleh berbagai LSM dan bahkan secara teratur didukung oleh proses legislatif di beberapa negara pengimpor yang membedakan minyak kelapa sawit.

Kelima, CPOPC tegas menyatakan tidak akan berpartisipasi dalam lokakarya Indirect Land Use Change (ILUC) UE, yang dipercaya sangat mendiskriminasikan minyak sawit di pasar Eropa. 

Keenam, CPOPC menyetujui prinsip pada sustainable development goal (SDG) PBB 2030 sebagai pendorong utama untuk mencapai komitmen keberlanjutan yang lebih tinggi dalam industri minyak sawit.

Langkah ini juga menandakan bahwa komitmen CPOPC untuk menyeimbangkan kemajuan ekonomi dan sosial dengan lingkungan.

Tag : cpo
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top