Lagu "We Will Rock You" Buka Konferensi Ekonomi Kreatif di Bali

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf bersama sejumlah musisi membuka konferensi tingkat dunia pertama yang membahas ekonomi kreatif dengan menyanyikan lagu "We Will Rock You" milik Queen di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11/2018).
Ni Putu Eka Wiratmini | 07 November 2018 14:09 WIB
Menteri Luar Negeri (kiri) Retno Marsudi dan Kepala Bekraf Triawan Munaf (kanan) bersama sejumlah musisi menyanyikan lagu "We Will Rock You" dari Queen untuk membuka World Conference on Creative Economic (WCCE) di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11). - JIBI/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR – Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf bersama sejumlah musisi membuka konferensi tingkat dunia pertama yang membahas ekonomi kreatif dengan menyanyikan lagu "We Will Rock You" milik Queen di Nusa Dua, Bali, Rabu (7/11/2018).
 
World Conference on Creative Economy (WCCE) merupakan prakarsa Indonesia. Sebanyak 2.000 peserta dari 30 negara hadir dalam kegiatan ini. 
 
Triawan mengatakan ekonomi kreatif dunia telah banyak berkembang dan berkontribusi besar dalam pertumbuhan dunia.

Pada 2015 misalnya, ekonomi kreatif mampu menghasilkan pendapatan US$2.250 miliar secara global dengan mempekerjakan 29,5 juta pekerja. Jumlah ini setara dengan 3% PDB dunia dan 1% populasi aktif dunia.
 
Dia menilai Indonesia pun sedang menuju garis depan pertumbuhan ekonomi kreatif dunia. Saat ini, ekonomi kreatif telah berkontribusi lebih dari 7,4% dari PDB Indonesia.

Terdapat 17 juta pekerja indsustri kreatif atau 14% dari total pekerja. Dari jumlah itu, sebanyak 54% pekerja industri kreatif merupakan wanita.
 
“Ekonomi kreatif bisa menjadi kesempatan untuk membuat kita setara dalam perekonomian dunia dan juga menghubungkan multi dimensi,” papar Triawan.
 
Sementara itu, Retno mengharapkan WCCE mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif dunia.

Masing-masing negara peserta diharapkan mampu membagi ide untuk berkolaborasi dalam hal perkembangan ekonomi kreatif global. Kerja sama global dalam ekonomi kreatif dipandang turut dibutuhkan Sustainable Development Goals (SDGs).
 
Ekonomi kreatif diharapkan tidak hanya eksklusif untuk negara besar, tapi bersifat inklusif untuk semua negara dan memberi kesempatan bagi semua orang. Industri publikasi misalnya, saat ini dinilai lebih inklusif dan membuat akses pengetahuan dan buku semakin mudah didapat.

Ditambah dengan perkembangan teknologi, ekonomi kreatif semakin inklusif untuk semua orang.
 
“Ada tiga hal yang menjadi prioritas kami, yakni kerja sama, kerja sama, dan kerja sama. Prinsip tidak ada yang tertinggal di belakang harus diaplikasikan di sini,” lanjut Retno.
 
Menurutnya, ekonomi kreatif bukan hal baru di Indonesia dan telah berkembang seperti pada industri pakaian, kuliner, seni, dan hiburan. Indonesia juga punya lebih dari cukup modal ekonomi kreatif dengan memiliki 17.000 etnis di seluruh Nusantara.
 
“Ekonomi kreatif akan mampu menguatkan Indonesia saat menghadapi krisis,” tambah Retno.
 
WCCE mengangkat lima isu utama, yaitu kohesi sosial, regulasi, pemasaran, ekosistem, dan pembiayaan industri kreatif. Hasil dari WCCE juga akan merumuskan Deklarasi Bali yang akan diusulkan ke Majelis Umum PBB tahun depan.

Deklarasi ini diharapkan untuk lebih memperkuat ekosistem dan mendukung pengembangan ekonomi kreatif dunia serta sebagai pernyataan bahwa dunia telah memasuki era baru.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi kreatif

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top