Strategi Bukalapak Hadapi Kesenjangan di Pasar

Bukalapak, perusahaan teknologi dagang-el menerapkan strategi khusus di tiga fokus utama untuk atasi kesenjangan atau gap di pasar antara penjual dan pembeli.
Agne Yasa | 07 November 2018 21:18 WIB
Fajrin Rasyid, President Bukalapak yang baru diangkat. - Istimewa

Bisnis.com, NUSA DUA -- Bukalapak, perusahaan teknologi dagang-el menerapkan strategi khusus di tiga fokus utama untuk atasi kesenjangan atau gap di pasar antara penjual dan pembeli.

Fajrin Rasyid, Co-Founder dan Presiden Bukalapak, mengatakan ketiga fokus yang menjadi strategi Bukalapak adalah marketplace, inklusi finansial, dan warung atau mitra Bukalapak.

Dia mengatakan melalui existing bisnis Bukalapak yaitu marketplace dapat membuka peluang seluas-luasnya bagi setiap kalangan masyarakat untuk bergabung.

"Itu salah satu cara untuk bridge the gap, karena sebenarnya apa sih konsep sharing economy, itu banyak definisinya. Tapi salah satu yang saya suka adalah, platform atau ekonomi itu memberikan kesempatan kepada sebanyak-banyaknya pihak, tidak hanya masyarakat kelas atas saja, tetapi masyarakat kelas bawah juga bisa mendapat akses," jelas Fajrin ditemui di sela-sela acara World Conference on Creative Economy 2018 di Nusa Dua, Bali pada Rabu (7/11/2018).

Staregi yang kedua yaitu financial inclusion atau memberikan kesempatan layanan keuangan ke lebih banyak masyarakat.

Saat ini, katanya, para pelapak mayoritas adalah Usaha Kecil Menengah (UKM) atau individu yang sebelumnya belum tersentuh permodalan dari bank ataupun lembaga keuangan konvensional.

Namun, ujarnya, melalui Bukalapak terdapat data penjualan yang bisa dijadikan credit scoring untuk memperoleh permodalan. Hal ini dapat meningkatkan inklusi keuangan di kalangan UKM.

Kemudian layanan investasi, banyak diantara UKM yang belum pernah menjadi investor produk-produk keuangan. Fajrin mengatakan melalui Bukalapak, pihaknya memperkenalkan investasi, seperti reksadana.

Adapun strategi yang ketiga yaitu inisiatif warung atau mitra Bukalapak untuk mengurangi kesenjangan antara pembeli dan penjual lewat teknologi atau offline to online (O2O).

"Kami berusaha memfokuskan diri bagaimana memenuhi kebutuhan pelanggan. Jadi di masing-masing [marketplace, inklusi finansial, warung] pun kami melihat, di marketplace misalnya ada kebutuhan apa dari pelanggan, apa yang mungkin masih kurang dan diperbaiki, begitu juga dengan inklusi finansial dan warung," jelasnya.

Menurutnya ke depan, tantangan yang masih akan dihadapi dan menjadi kesenjangan antara penjual dan pembeli yaitu dari sisi logistik, pembayaran, dan internet.

Peran pemerintah juga dinilai vital dalam mendorong ekosistem digital di Tanah Air. Fajrin berharap pemerintah dapat lebih sering melakukan komunikasi dengan para pelaku industri e-commerce serta asosiasi.

"Mungkin secara garis besar, kalau ada regulasi dikasih tahu agar bisa diskusi. Harapannya [untuk] ekosistemnya mudah-mudahan pemerintah menjalin komunikasi, [iklimnya] so far baik-baik saja," ujarnya.

Saat ini Bukalapak mencatat telah ada sekitar 4 juta pelapak yang bergabung dalam platform marketplacenya. Selain itu, sudah ada 400.000 warung yang tersebar di seluruh Indonesia yang tergabung dalam mitra Bukalapak.

Tag : bukalapak
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top