Wilayah Sumber Pendapatan Smartfren dari Terbanyak ke Terkecil

Pada periode sembilan bulan tahun ini, Smartfren membukukan Rp1,65 triliun atau 41% dari total pendapatan perusahaan yakni Rp3,94 triliun.
Duwi Setiya Ariyanti | 06 November 2018 14:51 WIB
Model memperlihatkan kartu perdana saat peluncuran produk terbaru Smartfren Super 4G Unlimited dan Super 4G Kuota di Jakarta, Selasa (18/9/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Wilayah operasi  di Jakarta,  Bogor, Tangerang dan Bekasi menopang pendapatan PT Smartfren Telecom, Tbk selama 9 bulan pada 2018.

Dikutip dari keterbukaan informasi perusahaan, Senin (5/11/2018), meskipun wilayah ini tergolong padat dari sisi jumlah pemainnya, Smartfren mendapatkan hampir separuh pendapatannya dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

Tercatat, pada periode sembilan bulan tahun ini, perusahaan membukukan Rp1,65 triliun atau 41% dari total pendapatan perusahaan yakni Rp3,94 triliun. Pendapatan di wilayah ini pun naik 18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Adapun, Jawa Timur menjadi wilayah penyumbang pendapatan terbesar kedua bagi perusahaan dengan nilai Rp608,85 miliar atau naik 5% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 yakni Rp578,53 miliar. 

Di bawah Jawa Timur, terdapat Jawa Tengah dengan Rp589,56 miliar atau naik 29% dari Rp454,67 miliar.

Kemudian, Jawa Barat dengan Rp351,55 miliar atau turun tipis dari Rp353,19 miliar di  periode 9 bulan tahun 2017. Lalu, wilayah Sumatra menyumbang Rp490,77 miliar atau naik  57% dari Rp310,72 miliar pada periode yang sama  tahun lalu.

Sisanya, terdapat Sulawesi dengan Rp127,41 miliar atau naik 8% dari Rp117,72 miliar dan Bali dengan Rp80.58 miliar yakni naik 21% dari Rp66,11 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017. Terakhir, Kalimantan dengan Rp50,41 miliar atau naik 15% dari Rp43,74 miliar di periode yang sama tahun sebelumnya.

Kendati pendapatan naik, perusahaan masih harus berusaha menurunkan kerugian. Pada kuartal III/2018, perusahaan mencatatkan kerugian sebesar Rp2,5 triliun atau sudah turun Rp300 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun 2017 yakni Rp2,8 triliun.

Di sisi lain, pengeluaran perusahaan di beberapa pos seperti iklan dan promosi naik 13% yakni dari Rp206,1 miliar menjadi Rp232,91 miliar.

Penerapan registrasi kartu SIM prabayar pun justru mengerek naik biaya kartu dan biaya voucer yakni naik 17% dari Rp168,55 miliar di periode 9 bulan pertama tahun 2017 menjadi Rp197,56 miliar pada periode yang sama tahun 2018. Begitu pula dengan distribusi yang naik 33% yakni dari Rp23,72 miliar menjadi Rp31,67 miliar di kuartal III/2018.

Hal itu sejalan dengan upaya perusahaan untuk mendorong pelanggan baru ke jaringan melalui paket data yang lebih murah.

Sebelumnya, Deputy CEO Smartfren Djoko Tata Ibrahim mengatakan paket data sebelumnya masih belum cukup bisa menjangkau konsumen di kelas bawah. Pasalnya dengan paket seharga Rp60.000 per bulan, masih terdapat pangsa pasar yang belum terjamah. Oleh karena itu, pihaknya mengeluarkan lima paket baru dengan harga murah dan kuota besar.

Paket data dan kartu perdana yang ditawarkan yakni mulai dari Rp30.000 dengan total 10GB, Rp40.000 dengan total 16GB, Rp60.000 dengan kuota 30GB, Rp100.000 60GB dan paket unlimited Rp65.000. Adapun, paket Unlimited hanya berlaku bagi para pengguna ponsel pintar.

Dari data yang diperoleh Bisnis, jumlah nomor Smartfren di jaringan hingga semester I/2018 yakni 9,5 juta nomor dan jumlah base transceiver station (BTS) 4G yang beroperasi sebanyak 16.000 unit.

Dia menyebut dengan kondisi jaringan saat ini masih mencukupi penambahan nomor aktif di jaringan. Dua spektrum frekuensi di 850 MHz dan 2,3 GHz saat ini masih tergolong leluasa sehingga memungkinkan untuk pemberian paket Unlimited dengan akses maksimum sehari 1 GB.

Dari sisi distribusi, paket yang ditawarkan itu berupa voucer fisik yang dijual di toko ponsel hingga distributor kecil. Dia bahkan menyebut galeri resmi justru tak menjual produk baru ini karena ditujukan untuk mengakuisisi pelanggan. Penawaran secara digital, katanya, akan dibuat berbeda dengan tambahan paket di aplikasi tertentu.

“Menengah atas [pakainya paket] Unlimited. Ada anak-anak milenial yang pas 30 paketnya juga cukup besar. Menengah atas dan menengah bawah kali ini,” ujarnya.

Tag : smartfren
Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top