OPINI: Kenaikan Harga Premium justru Jadi Sinyal Positif buat Investor

Kenaikan premium bisa menjadi energi dan sinyal positif buat investor yang mengintip perekonomian Indonesia. Konsistensi kebijakan subsidi energi yang berkurang dari tahun ke tahun menjadi nilai plus terhadap kesehatan APBN dan perekonomian Indonesia ke depannya.
Anton Hendranata, Ekonom Bank BRI | 05 November 2018 12:12 WIB
Pasang surut kebijakan penaikan harga BBM. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Saat Indonesia fokus pada perhelatan besar pertemuan tahunanan IMF–World Bank di Bali, dan dianggap paling sukses penyelenggaraannya, kita dikejutkan dengan pengumuman kenaikan harga premium pada sore harinya, Rabu (10 Oktober). Namun, setengah jam berselang, kekagetan muncul lagi karena pemerintah terpaksa membatalkan kenaikan harga tersebut.

Mengapa pemerintah akhirnya membatalkan kenaikan harga premium, walaupun taruhannya kredibilitas pemerintah? Seberapa pentingnya pemerintah harus melindungi daya beli masyarakat, terutama kalangan bawah/miskin?

Harga minyak dunia selalu menjadi momok bagi perekonomian domestik sejak 2003, mengingat kita adalah negara importir minyak. Pada saat harga minyak dunia tinggi, maka inflasi terancam melonjak. Daya beli masyarakat level menengah bawah pasti terusik dan tergerus. Ruang gerak APBN juga kerap terganggu karena tersandera oleh membengkaknya subsidi energi. Apalagi, produksi minyak domestik juga terus menurun.

Tahun ini, jelas sangat berbeda dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Defisit neraca minyak menjadi topik seksi untuk diungkit karena surplus neraca nonmigas sangat tipis pada tahun ini (surplusnya hanya 60% dari tahun lalu). Kemudian, tekanan makin bertambah karena rendahnya surplus neraca modal dan finansial hanya sebesar US$6,5 miliar pada semester I/2018, jauh lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu yaitu US$12,1 miliar.

Alhasil, neraca pembayaran Indonesia mencatatkan defisit US$8,2 miliar pada semester I/2018 (diduga karena defisit akan terus membengkak pada semester II). Indonesia kekurangan suplai US$ atau kekurangan tabungan US$ dari investor asing, yang mengakibatkan rupiah melemah terhadap US$. Tekanan terhadap rupiah makin bertambah karena dolar AS cenderung menguat terhadap mata uang dunia.

Di sisi lain, di luar perkiraan harga minyak dunia Brent bertengger di atas US$70/barel. Kenaikan harga minyak dunia ini, hampir 50% dalam 2 tahun terakhir. Hal ini sangat tidak bisa diabaikan dan dianggap biasa-biasa saja bagi perekonomian domestik.

Harga BBM bersubsidi semakin tidak rasional dan makin jauh dari harga keekonomiannya. Disparitas harga pertamax dan pertalite terhadap harga premium yang disubsidi semakin lebar. Perbedaan harga pertamax terhadap premium, meningkat dua kali lipat yaitu Rp3.850 dari Rp1.850 pada Desember 2017. Sementara itu, dengan pertalite selisihnya Rp1.250 dari Rp950 pada Desember 2017. Tingginya disparitas harga ini disinyalir menyebabkan makin tingginya impor minyak, yang membuat defisit neraca minyak membengkak ke US$8,4 miliar pada semester I/2018 dari US$6,4 miliar pada tahun lalu.

Melihat situasi ini, maka cukup logis untuk mengurangi defisit neraca minyak dengan melakukan penyesuaian terhadap harga BBM bersubsidi. Pengalaman pada Mei 2008, ketika harga premium naik 33% dari Rp4.500 ke Rp6.000 dan 31% dari Rp6.500 ke Rp8.500 pada November 2014, impor minyak mengalami penurunan lumayan signifikan setelah 3 bulan kenaikan harga premium tersebut.

Jadi kalau harga premium dinaikkan pada Oktober lalu menjadi Rp7.000 (naik 7%), maka penurunan defisit neraca minyak baru akan terasa pada tahun depan. Dampak positifnya, saya perkirakan tidak sebesar 2008 dan 2014 karena kenaikan premiumnya hanya 7%. Ini artinya, sulit juga berharap pelebaran neraca defisit minyak akan bisa dimitigasi segera pada tahun ini.

INFLASI

Selanjutnya, dari sisi inflasi. Kenaikan premium pada 2008 sebesar 33% dan 2014 sebesar 31%, menyebabkan tambahan inflasi cukup besar 2%-3%. Sebagai catatan, inflasi akhir 2008 dan 2014 sangat tinggi, masing-masing tercatat 11,1% dan 8,4%.

Kenaikan premium sekitar 30%, ternyata sangat menggangu daya beli masyarakat secara nasional. Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan uang beredar riil (M1 riil) yang melambat signifikan ke 3,5% pada 2008 dari 12,5% pada tahun sebelumnya. Begitu juga pada 2014, pertumbuhan M1 riil melambat dari 4,4% ke 3,2%.

Bagaimana jika pemerintah jadi menaikkan harga premium menjadi Rp7.000? Diperkirakan tambahan inflasi untuk tahun ini sekitar 0,2%-0,3%. Dengan kata lain, inflasi tahun ini masih cukup aman di kisaran 3,5%. Dampak penurunan daya belinya mungkin tidak sedahsyat 2008, tetapi tetap akan sangat mengganggu perekonomian saat ini, yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi global dan menguatnya dolar AS.

Jadi lumrah kalau pemerintah menghadapi pilihan yang super sulit untuk menaikkan harga premium pada tahun ini. Nampaknya, pemerintah lebih fokus menjaga daya beli masyarakat, terutama ekonomi kelas bawah. Walaupun taruhannya defisit minyak semakin menganga dan menambah tekanan defisit neraca transaksi berjalan.

Harus kita ingat kembali, menaikkan harga premium yang hanya 7%, baru terasa dampaknya pada tahun depan. Namun, defisit neraca transaksi berjalan, mungkin tetap membengkak pada tahun ini.

Oleh karena itu, saya melihatnya dari sudut pandang berbeda, kenaikan premium bisa menjadi energi dan sinyal positif buat investor yang mengintip perekonomian Indonesia. Konsistensi kebijakan subsidi energi yang berkurang dari tahun ke tahun menjadi nilai plus terhadap kesehatan APBN dan perekonomian Indonesia ke depannya.

Tidak mustahil, kekurangan suplai US$ akan segera ditutupi dengan masuknya kembali investasi asing melalui investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI dan investasi portfolio (saham dan obligasi) dalam waktu dekat. Paling tidak, arus keluar modal asing terutama dari saham, tertutup kerannya. Mungkin ini bisa sedikit meringankan kerja Bank Indonesia untuk menstabilkan secara gradual dan terukur.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (5/11/2018)

Tag : Harga BBM
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top